Insafilah Bahwa Hidup Di Dunia Ini Segalanya Fana


Selain hukum karma, ada sebuah hukum yang berlaku di dunia, namun jarang dipahami manusia, yaitu bahwa di dunia ini segalanya fana. ‘ Fana ‘ berarti tidak sejati, dapat berubah-ubah, bersifat sementara, tidak kekal, datang dan pergi, berawal dan berakhir. Selain hati nurani – sang emanasi roh Tuhan, sesungguhnya tiada sesuatu apapun di dunia ini yang abadi, yang bisa menjadi milik kita untuk selamanya. Kefanaan dunia adalah salah satu perangkap terhalus bagi manusia. Bermilyar umat manusia hidup ditengah kefanaan dunia, dan hampir semua orang terjebak di dalamnya. Kita adalah satu di antaranya. Hukum kefanaan dunia begitu sulit untuk diinsafi, karena warna-warni yang ditawarkan dunia sungguh indah menggoda. Begitu indahnya, hingga kita tak sempat berpikir bahwa itu sesungguhnya fana. Setelah terjebak ke dalam ikatan nafsu dan pemuasan indera, kita semakin sulit untuk menyadari, apalagi untuk bangkit dan berpaling ke dalam diri.

Di tengah hidupnya manusia sibuk dari pagi hingga malam, dari muda hingga tua. Mengejar dan terus mengejar, meraih dan terus meraih, hingga jiwa melekat dan terjerumus dalam samsara. Kita mengejar kekayaan, kecantikan, popularitas, kekuasaan dan segala kenikmatan, seakan di situlah kebahagiaan yang bisa dimiliki selamanya. Seumur hidup manusia letih mengejar sesuatu yang pada akhirnya harus dilepaskan. Di mata kebenaran, inilah yang dinamakan kebodohan batin. Saat jiwa ini harus meninggalkan raga, saat tangan harus kembali hampa, yang tersisa kelak adalah jiwa yang penuh kemelekatan, yang tak mampu merelakan. Inilah penderitaan klise manusia.

Bagi Orang Suci, kehidupan di dunia bagaikan sebuah mimpi. Kala ajal tiba, saat itu manusia bagaikan terbangun dari mimpinya. Hidup sebagai orang kaya bukanlah kaya yang sesungguhnya, melainkan kisah mimpi singkat sebagai orang kaya, karena di saat mati kekayaan itu bukan lagi miliknya. Hidup sebagai orang berkuasa berarti tengah bermimpi sebagai orang yang berkuasa, dan saat mati nanti kita bukan lagi orang yang berkuasa. Hidup sebagai orang cantik hanyalah mimpi sebagai orang cantik, karena tiada cantik – buruk rupa ketika sang roh meninggalkan tubuh. Hidup sebagai orang populer adalah mimpi tentang popularitas. Namun setelah mati, popularitas jadi tak berarti. Setelah mati,yang tersisa adalah realitas roh yang sejati dan abadi, yang tidak mengenal kaya-miskin, cantik-jelek, kuasa-jelita, ataupun populer – hina. Semua dualisme itu hanya berlaku di dunia. Realitas roh hanya mengenal tingkat kesadaran nurani: sadar cemerlang atau penuh dengan dosa dan kemelekatan. Dunia adalah fana. Demikianlah Orang Suci menginsafinya. Bagi Orang Suci, puluhan tahun hidup di dunia bagaikan mimpi sekejap, karena itu ia tak rela membiarkan dirinya terikat dan dipermainkan oleh mimpi. Orang Suci hidup di dunia namun tak membiarkan hatinya diikat oleh dunia. Tetapi manusia awam justru menganggap hidup ini bagaikan abadi. Setelah kaya, manusia melekat dengan kekayaan yang dianggapnya abadi. Orang yang terlalu mengagungkan kecantikan fisik, sedikit keriput di wajah saja baginya bagaikan bencana. Bagi manusia yang memiliki kuasa, ia tak rela saat harus melepaskan kekuasaannya. Seorang bintang yang populer suatu hari akan sulit menerima kenyataan bahwa tiada lagi orang yang mengelu-elukannya.

Begitulah realitas manusia yang tak menginsafi hukum kefanaan dunia. Setelah mendapatkan, kita tak rela melepaskan. Padahal badan ini saja kelak harus kita tinggalkan. Saat harus bangun dari mimpinya, manusia tak menerima kenyataan bahwa segala yang dengan susah payah dikejarnya akan kembali pada kekosongan. Saat itu yang tersisa adalah jiwa yang penuh kemelekatan. Sungguh sebuah penderitaan. Sebenarnya tidak perlu menambah sesuatu apapun pada diri kita, nurani sendiri sesungguhnya adalah realitas yang kaya akan kebahagiaan. Asalkan jiwa kita bebas dari segala kemelekatan, dengan sendirinya jiwa kita damai dan bahagia. Namun dalam ribuan kehidupan manusia terjebak dalam pengejaran aspek fisik/materi, semakin penuh kemelekatan dan lupa akan hukum kefanaan dunia. Dari sinilah penderitaan berawal. Penginsafan kefanaan dunia bukan mengajak kita untuk hidup ekstrim sebagai nihilis (menganggap segalanya kosong dan sia-sia) yang menolak berkarya, tidak bersosialisasi, anti teknologi, atau hidup mengucilkan diri. Menginsafi kefanaan bukan berarti kita tidak boleh memiliki sesuatu. Kita tetap hidup wajar di dunia, bahkan boleh berbahagia di dalamnya.

Penginsafan kefanaan dunia mengajak kita hidup bersahabat dengan keadaan. Hidup terus berubah, segala sesuatu datang dan pergi. Dengan jiwa yang bebas tuntutan, biarlah segalanya berjalan mengalir sesuai sebab jodoh. Ada kalanya hidup kita di atas, di bawah, lancar, berliku. Ada kalanya kita dipuji, dihina, kaya, miskin. Menginsafi kefanaan berarti belajar menerima kenyataan bahwa segalanya memang dapat berubah sewaktu-waktu, karena itu janganlah hati kita melekat pada sebuah kondisi tertentu dan menolak yang lain. Hadapi segalanya dengan hati yang wajar, biasa, dan hening. Sedikit kemelekatan berbuah sedikit penderitaan, besar kemelekatan berbuah besar penderitaan. Bagi orang awam, kekayaan adalah segala-galanya. Sebaliknya di mata seorang ekstrimis, kekayaan adalah sumber petaka yang menyesatkan. Bagi seorang nihilis, kekayaan tidak bermakna apa-apa, sedangkan di mata orang arif, kekayaan hanyalah sebuah skenario hidup. Kaya atau tidak, seorang yang arif tetap berbahagia dalam realitas nurani. Ia tidak mengeluh dan kehilangan kebahagiaan karena tidak memiliki harta. Namun jika memilikinya, hatinya juga tak terikat pada harta, melainkan memanfaatkannya untuk kebahagiaan sesama. Penginsafan kefanaan dunia membolehkan kita memanfaatkan materi, tapi bukan diperbudak materi. Tidak harus melepaskan, cukup jangan terikat.

Lupakanlah, relakanlah… itu sudah berlalu… Saat barang yang kita sayangi hilang, atau seseorang yang kita sayangi jauh meninggalkan kita, kita sulit merelakannya, karena kita sudah kepalang menjadikannya sebagai bagian dari diri, atau bahkan jadi belahan jiwa. Saat bertikai, disalahpahami, dirugikan, kita juga sulit melupakannya. Kita terbiasa mencatat dan memperhitungkannya. Saat dipuji dan berprestasi, hati kita cenderung melekat pada momen tersebut. Lihatlah, betapa selama ini kita hidup dalam ikatan hati. Hidup adalah mimpi panjang. Saat mati nanti, kehidupan akan memaksa kita menyadari kebenaran tersebut. Tapi kenyataan akan menjadi baik kalau sejak sekarang kita melatih kesadaran itu. Setelah satu hari berlalu, awalilah setiap hari yang baru dengan berkata,” Yang kemarin telah berlalu. Baik, buruk, benar, salah…. semua sudah berlalu bagaikan mimpi, karena itu tak usah melekat.” Beban kemelekatan adalah bagaikan bongkahan batu yang selalu kita bawa ke mana-mana. Satu minggu mengingatnya, berarti satu minggu batu tersebut memberatkan kita. Satu bulan kita mengingat-ingatnya, satu bulan pula kita diberatkannya. Seumur hidup kita memyimpan dendam, seumur hidup jiwa kita berada dalam ikatan. Relakan, lepaskan, lupakan… dan jiwa pun menjadi leluasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s