Zat Besi


Menurut laporan WHO, paling sedikit 1/5 dari penduduk dunia kekurangan zat besi, sehingga sering terjadi penyakit kurang darah (Iron-Deficiency Anaemia). Si penderita akan sering merasa letih dan lemah. Para donor darah dan wanita lebih sering mengalami kekurangan zat besi. Wanita memerlukan zat besi 2 kali lebih banyak daripada pria, karena banyak kehilangan zat tersebut ketika menstruasi/datang haid. Penyimpanan zat besi dalam tubuh mereka juga berkurang dibanding pria. Anak laki-laki dengan pertumbuhan yang cepat, memerlukan banyak zat besi untuk membentuk sel darah merah dalam jumlah yang banyak. Juga sangat dibutuhkan oleh wanita hamil, menyusui,dan usia lanjut. Hanya terdapat sedikit zat besi dalam tubuh bayi yang baru lahir, sehingga bayi mudah mengalami kekurangan zat ini. Anak wanita agak kurang memerlukan zat besi dalam pertumbuhan, akan tetapi mereka amat memerlukannya setelah menstruasi.

Zat besi berguna untuk membentuk haemoglobin darah sebagai heme, yaitu pigmen yang terdapat dalam haemoglobin. Dalam sebuah molekul haemoglobin terdapat empat heme dan masing-masing dengan satu atom besi. Haemoglobin berfungsi mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Kira-kira 2/3 dari 4 gram zat besi tubuh terikat dalam haemoglobin. Tubuh dapat menyimpan zat besi, juga dapat mempergunakannya beberapa kali dari hasil pemecahan sel darah merah (Hemolysis). Biasanya sel darah merah akan mati setelah kurang lebih 120 hari dalam sirkulasi. Setelah perusakan sel, sebagian zat besi yang terkandung di dalamnya dapat dipergunakan lagi untuk membentuk sel darah merah yang baru. Jumlah zat besi yang diperoleh dengan cara ini (20-25 mg per hari) jauh lebih besar daripada yang diperoleh dari makanan (hanya sekitar 1 mg). Orang yang mempunyai penyakit di bawah ini cenderung memerlukan lebih banyak zat besi, yaitu penyakit ginjal, bisul, radang usus besar (Colitis), penyakit infeksi telinga, kanker, sakit gigi, sakit gusi, dan radang amandel (Tonsil), infeksi telinga, perdarahan yang kronis pada rongga hidung, wasir berdarah (bleeding piles), penyakit Diverticulosis, Hiatus Hernia, perdarahan lambung, dan lain-lain.

Zat besi dalam makanan dibagi dalam 2 jenis yaitu : 1. Zat besi Haem (Haem Iron), terdapat pada daging merah dalam jumlah yang banyak. 2. Zat besi Non Haem (Non Haem Iron), terdapat dalam tumbuh-tumbuhan. Zat besi Heam mudah diserap oleh tubuh, dan sumbernya yang kaya adalah daging dan ikan. Zat besi Non Heam dari tumbuh-tumbuhan merupakan sumber yang kurang baik, sebabnya adalah Pertama, dalam tumbuh-tumbuhan misalnya padi-padian, sayur-mayur, kacang-kacangan, tidak mengandung banyak zat besi dibanding dengan daging. Kedua, zat besi dalam tumbuh-tumbuhan agak sulit diserap misalnya kacang kedelai menghalangi penyerapan zat besi non haem walaupun kacang kedelai merupakan sumber utama zat besi nabati. Hal ini disebabkan terdapat asam phytat dan asam oksalat di dalamnya yang menghalangi penyerapan, karena dapat membentuk ikatan yang tidak larut (endapan). Phytase, suatu enzim yang terdapat dalam usus, dapat memecah sebagian asam phytat dari makanan. Oleh kerena itu bukan semua mineral dalam makanan akan terbuang. Dalam menu yang normal, biasanya jumlah asam phytat tidak cukup banyak sehingga tidak mengganggu penyerapan zat besi, tetapi dalam menu Vegan hal ini masih memerlukan penelitian yang lebih lanjut.

Menurut hasil penyeledikan, dengan menambah makanan yang mengandung vitamin C, seperti air jeruk, kubis, kentang, tomat dan buah-buahan lainnya ke dalam makanan yang mengandung zat besi non heam, maka akan mengubah beberapa rintangan sehingga penyerapan zat besi menjadi mudah, sebab vitamin C dapat mengubah zat besi Ferri menjadi Ferro yaitu suatu bentuk yang diperlukan dalam penyerapan zat besi. Perlu diketahui bahwa vitamin C yang dapat mengubah zat besi ini, tidak termasuk dosis yang dihitung dalam keperluan vitamin C sehari-hari yaitu kurang lebih 60 mg. Dalam suatu hidangan apabila memakan daging yang mengandung zat besi heam dan juga menyantap makanan yang mengandung zat besi non heam, maka ini akan mempermudah penyerapan zat besi non heam. Penyerapan zat besi juga dibantu oleh adanya vitamin B, protein, dan sedikit tembaga. Hal ini penting diketahui kaum vegetaris, setelah makan sebaiknya minum sari jeruk atau makan buah-buahan agar zat besi yang terkandung di dalam makanan dapat diserap oleh tubuh. Kuning telur mengandung zat besi berkualitas baik yang mudah diasimilasi, dan dalam jumlah yang lebih banyak dibanding dengan zat besi dalam daging. Yang lebih menarik lagi ialah apabila memasak agak lama makanan yang bersifat asam seperti tomat atau juice dengan menggunakan kuali besi yang tua, akan terdapat penambahan zat besi dalam makanan tersebut.

Menurut laporan belakangan ini, kekurangan zat besi dapat mengakibatkan penurunan kecerdasan seseorang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minum kopi atau teh pada waktu makan juga akan mengurangi penyerapan zat besi, tetapi setelah ditambah dengan air jeruk, penyerapannya meningkat kembali. Menurut hasil penelitian terakhir, dinyatakan bahwa penyerapan zat besi tidak akan terpengaruh apabila minum kopi atau teh 1 jam sebelum makan. Akan tetapi, penyerapannya akan terganggu apabila meminumnya 1 jam sesudah makan. Zat fosfat yang ditambahkan ke dalam minuman ringan, es krim, manisan, dan bir juga mengurangi penyerapan zat besi. Sumber zat besi : organ tubuh hewan terutama hati, padi-padian, seperti jagung, jali, benih gandum, buah-buahan, kacang-kacangan terutama kacang kedelai, kuning telur, kentang, roti, bayam merah, bayam, toge, ketumbar, tempe, wijen, ubi jalar, daun talas, cabe rawit, jamur kuping, kangkung, pe-cay, peterseli, salak, dan lain-lain. Menurut ketentuan dalam label RDA di Amerika, zat besi yang diperlukan per orang setiap harinya, baik untuk bayi, anak-anak, remaja, maupun orang pria dewasa yaitu kurang lebih 12 mg, kecuali untuk wanita yaitu sebanyak kurang lebih 18 mg. Kaum vegetaris juga bisa kekurangan zat besi, karena sulit menyerapnya dari usus, sekalipun mereka banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi, misalnya yang terbanyak dikonsumsi adalah kacang kedelai, ragi, dan buah badam, namun mereka tidak memakan daging dan ikan yang dapat membantu mempermudah penyerapan zat besi dari makanan lain. Oleh karena itu kaum vegetaris sebaiknya menaruh perhatian khusus pada makanan mereka dengan banyak mengkonsumsi buah-buahan yang mengandung vitamin C yang dapat membantu penyerapan zat besi dari makanan 😉

Iklan

1 Response so far »


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s