Memuliakan Semua Makhluk


Kita barangkali memang membutuhkan konsep yang lebih bijak tentang binatang, kita memberikan perlindungan kepada binatang karena kekurangan mereka, karena nasib tragis yang melahirkan mereka dalam bentuk ragawi yang tidak sesempurna seperti kita. Dan disitulah kesalahan kita bermula. Karena binatang tidak untuk dinilai dengan ukuran manusia. Dalam tatanan dunia sejak dahulu kala, sesungguhnya setiap keberadaan mereka sudah dengan sendirinya adalah keutuhan mereka. Mereka sempurna dipenuhi berkah indra yang kita tidak memilikinya lagi atau tidak pernah memilikinya, dan hidup dalam suara-suara yang kita tak bisa mendengarnya. Mereka bukan saudara, juga bukan bawahan. Mereka adalah bagian dari bangsa mereka sendiri, yang tertangkap bersama-sama dengan kita dalam jaring kehidupan dan waktu. Mereka juga adalah teman sepenjara di ladang bumi ini. Apakah kita akan terus melakukan penindasan dan tindakan barbar terhadap teman satu bumi, yang membagi takdir yang sama di planet tak kekal ini?

Burung-burung di udara mati untuk kelangsungan hidupmu, binatang di tanah mati demi makananmu, ikan-ikan di laut mati bagi mulutmu, perut kita adalah akhir mereka. Tuhanku! Telah berapa banyak kematian bagi sepotong hidup ini telah disulam, betapa kematian sudah memenuhi hidup manusia yang sekilas. Tak benar bahwa daging adalah makanan yang boleh dikonsumsi jika binatang itu tidak dibunuh untuk dirinya, jika dia tidak memerintahkan orang lain membunuh untuknya, jika binatang itu tidak dibunuh khusus untuk dirinya…bukan itu saja tetapi di masa mendatang akan banyak orang…dipengaruhi rasa daging akan bersama-sama dengan berbagai cara dan argumen yang canggih mempertahankan praktek makan daging.

Memang susah beralih dari kebiasaan makan yang sudah mendarah daging. Kita memerlukan upaya untuk mencapai makanan yang manusiawi. Mereka yang tak lagi makan daging karena rasa belas kasihan tak perlu diberitahukan bagaimana rasanya keindahan dalam hati mengetahui bahwa tak ada binatang yang dikorbankan untuk makanan mereka.Sungguh, itu hanya bisa dikatakan kecuali manusia telah berhenti makan daging maka selamanya”bagian jiwanya tak akan pernah mengalami pencerahan,” memparafrase Anatole France. Untuk memberi kesempatan kepada kimia tubuh beradaptasi terhadap perubahan makanan ini, paling baik adalah memulai dulu dengan daging merah, kemudian unggas dan terakhir ikan.” Roh adalah sama bagi semua kehidupan, meski badan bagi setiap mereka adalah berbeda.” – Hippocrates.

Jika manusia dihadapkan kepada pertanyaan apakah makhluk lain seharusnya dibiarkan tetap hidup atau tidak, atau apakah seharusnya mereka menderita atau tidak, maka kita percaya bahwa hampir semuanya akan setuju bahwa sejauh kepentingan yang bersangkutan tidak dikorbankan, jawabnya adalah mereka seharusnya hidup dan seharusnya tidak menderita. Bersikap tak membeda-bedakan makhluk hidup dan kesejahteraan yang lain sambil membuat pengecualian terhadap mereka yang tak berguna bagi kita, maka bersiap-siaplah mengulangi apa yang dilakukan Nazi, mengorbankan siapa dan apa saja untuk memuaskan dorongan nafsu agresif. Apakah hidup seperti ini tidak bertolak belakang dengan cara hidup yang indah dan penuh kehormatan? Jalan hidup yang tertanam dalam hati kita masing-masing dan jika jujur, kita akan mengakui kebenarannya. Bukankah sekarang adalah saatnya berhenti membunuh dan berhenti memakan sahabat-sahabat sepenciptaan kita dan mulai untuk mencintai mereka?

Iklan

1 Response so far »

  1. 1

    jamz said,

    memuiakan semua makhluk secara umum adalah memperlakukan makhluk sebagaimana kodratnya dari sang pencipta dengan rasa kasih sayang dan perlakuan sebvaik-baiknya. miaslnya hewan diciptakan karena dagingnya untuk manusia tapi manusia bisa memuliakan dgn disaat memotongnya dgn cara yang baik dan manusawi.
    lebih baik lagi jika pengolahan daging tsb tidak dikotori dgn tindakan menambah bahan2 berbahaya hanya demi meraup keuntungan yg akibatnya membahanyakan umat manusia…
    satu lagi yg perlu diingat jangan berlebihan!


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s