Mewujudkan Taman Eden


Marilah berendah hati melihat keindahan karya Tuhan melalui setiap kelahiran. Pada seekor ayam pun. Dalam kuasa kasih Tuhan dia lahir ke dunia dan menjadi bagian hidup yang sama dengan kita. Tegakah kita membunuhnya demi dia toh diciptakan untuk dimakan? Apakah kita tetap akan bertega hati mengakhiri segala yang berawal penuh kemukjizatan hanya karena kita merasa butuh makan ayam? Bagaimana dalam doa kita panjatkan pengharapan akan damai membumi sementara kita biarkan pembunuhan bertahta dalam (demi) makanan? Sedangkan setiap makhluk begitu mendamba untuk bisa hidup. Semut pun bahkan melawan jika dipojokkan. Makhluk sekecil semut dengan segala cara juga ingin mempertahankan hidupnya.

Semua bentuk kehidupan berarti. Setiap makhluk hidup termasuk manusia mempunyai fungsi dalam keberadaannya untuk mewujudkan lingkungan hidup harmonis. Lingkungan yang segala keuntungan pada dasarnya kembali kepada manusia. Dan inilah sebenarnya taman Eden! Ketika Tuhan melihat tak baik jika manusia itu sendiri dan menciptakan penolong yang sepadan dengannya. Apa yang dijadikan Tuhan kemudian?” Lalu Tuhan Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu,” Kejadian 2 : 19.

Tetapi manusia pertama telah melakukan kesalahan fatal. Yakni dia menolak kesepadanannya dengan teman-teman yang dicipta Tuhan sebagai penolongnya. Referensi Kitab Kejadian 2 : 19. ” tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.” Demikian dosa manusia sesungguhnya tidak datang dari suara-suara luar tetapi ketika dalam dirinya lahir penolakan untuk mengakui kesepadanannya dengan makhluk-makhluk lain ciptaan Tuhan. Bagaimana ketika manusia memanjatkan harapannya akan hidup damai bahagia tetapi yang dilakukannya adalah merampok nafas kehidupan lainnya? 🙂

6 Tanggapan so far »

  1. 1

    Pelangi Anak said,

    100% setuju sekali…itulah kenapa kami (suami dan saya) memilih jalan hidup vegetarian…meskipun pada awalnya, orientasi kami adalah untuk kesehatan, akan tetapi seiring berjalannya waktu, kami mulai merasakan semangat spiritual dari vegetarianism…

    Oiya, salam kenal dan terimakasih atas pencerahannya!

  2. 2

    waian said,

    ciiiieeee……

    bapao wisnuuu….

    suxeess dh veget nyaa…

    n cpt jd biksu yaa…

    amitaba

  3. 3

    4hm3d5 said,

    apakah tumbuhan bukan makhluk hidup??

    salam kenal, terima kasih telah berkunjung ke blog saya…

  4. 4

    Flo said,

    Saya setuju kalau kita tidak seharusnya merampok nafas kehidupan dari makhluk hidup lain. Itulah sebabnya saya setuju kita tidak memakan makhluk hidup lain.

    Di Kitab Kejadian, kata “makhluk hidup” hanya disebutkan pada saat penciptaan hewan dan manusia. Kata asli dalam bahasa Ibraninya adalah “nephesh”, dan tumbuhan tidak memakai kata ini.
    Hanya Biologi yg menggolongkan tumbuhan dalam makhluk hidup krn definisinya yg berbeda dg definisi Tuhan.
    Itulah sebabnya di Kejadian 1: 29, 30 disebutkan bahwa tumbuhan adalah makanan manusia dan hewan (makanannya makhluk hidup).

    Namun saya kurang setuju jika dikatakan bahwa saat manusia tidak menemukan penolong yg sepadan dengannya di antara hewan artinya dia melakukan kesalahan fatal.
    Sy percaya setiap spesies mempunyai kecocokan yg istimewa dan tidak bisa digantikan oleh spesies lain. Manusia tidak dapat menemukan penolong yg sepadan di dalam diri sapi, kucing, atau anjing sekalipun. Harus ada manusia lain yg dapat mengerti diri manusia itu sendiri dan menjadi penolong yg sepadan baginya.

    Di dalam Kej 1:26 disebutkan bahwa tujuan Tuhan menciptakan manusia sesuai dg gambarNya adalah: spy manusia berkuasa atas seluruh hewan.
    Kata “berkuasa” ini yg sering disalahartikan sebagai ijin utk melakukan segala sesuatu yg diinginkan atas hewan, sekalipun ini berarti menyiksa dan mematikan hewan tersebut.

    Tidak ada konsep kekuasaan yg demikian dalam Tuhan. Jadi jelas bukan ini yg Tuhan maksud dengan “berkuasa”.
    Konsep berkuasa yg dimaksud adalah: Hewan dan seluruh alam ada dalam kekuasaan manusia, dan manusia mempergunakan kekuasaannya untuk mensejahterakan kehidupan hewan dan keseluruhan alam tersebut.
    Sama seperti: pemerintah berkuasa atas rakyat, tapi pemerintah wajib mempergunakan kekuasaannya untuk mensejahterakan rakyatnya.

    Atau, manusia ada dalam kekuasaan Tuhan, dan Tuhan mempergunakan kekuasaanNya untuk mengasihi dan mensejahterakan manusia.
    Menurut sy, inilah konsep Tuhan tentang “berkuasa”.

    Mari menjadi penguasa yg baik. 🙂

  5. 6

    Ronny said,

    Soal vegetarian pada abad 3 alkitab sdh banyak yg di rubah dan dihilangkan oleh raja konstantin,jika mau lihat ada pada kitab essene(jelas sekali).saya juga melihat lebih dari 10kitab suci mengatakan hal yg sama,saran saya lihat siaran TV di parabola SupremeMasterTV


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s