Kura-Kura, Sang Penolong


Pada tahun 1975, seorang korban kecelakaan kapal yang menyedihkan di lepas pantai Manila terlongo-longo melihat seekor kura-kura laut raksasa berenang ke arahnya, tampaknya menawarkan bantuan. Sambil tertegun wanita itu memanjat naik ke atas kura-kura, yang kemudian melakukan sesuatu yang mestinya ‘ tidak pernah dilakukan  ‘ oleh kura-kura. Biasanya kura-kura laut menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam air, tetapi yang satu ini tahu sedemikian rupa bahwa wanita malang ini memerlukan dukungan konstan untuk bertahan hidup dan juga sangat-sangat memerlukan perawatannya. Dia terus tinggal di atas permukaan selama dua hari penuh, tanpa makanan bagi dirinya sendiri, supaya dia bisa tetap mengangkutnya dan mempertahankan hidup wanita itu. Ketika regu penyelamat datang akhirnya datang, ‘ saksi mata (baca: regu penyelamat) berpikir bahwa wanita ini terapung di atas tong minyak sampai dia selamat dinaikkan ke kapal – lalu ‘ tong minyak ‘ ini melingkari area itu dua kali dan menghilang. Tak pernah terkira dalam pikirannya bahwa itu adalah seekor kura-kura. Di kira sebagai tong minyak mungkin tidak mengagetkan sama sekali. Tetapi apa yang terjadi dengan hukum di AS dan hampir pasti begitu juga dengan seluruh negara di bumi ini. Selama bertahun-tahun, ternyata secara hukum kura-kura tidak dianggap sebagai binatang di AS. Kenyataan ini di alami oleh Henry Bergh, salah seorang pejuang perlindungan binatang, ketika dia berusaha menghentikan peristiwa yang menyiksa bagi kura-kura hijau. Binatang besar ini, ada yang diketahui hidup sampai ratusan tahun, dan tumbuh mencapai berat 270 kilogram atau lebih, dicari sebagai sumber status untuk sup dan bistik oleh orang kaya, dengan anak-anaknya dimakan ketika mereka baru mencapai berat sekitar 22 kilogram.

Bergh menemukan bahwa kura-kura diangkut dengan kapal dari kawasan tropika ke Pasar Ikan Fulton di New York. Dalam perjalanan, kura-kura ini tentu tidak mendapatkan tempat duduk di kabin kelas satu. Mereka terbaring di atas punggungnya selama beberapa minggu, di luar air, tanpa ada apapun untuk dimakan atau minum, begitu mirip dengan bagasi yang terbalik. Mereka diuntai dengan tali yang ditisikkan melalui lubang yang dibuat di siripnya. Bergh melakukan apa saja yang bisa dia lakukan untuk menghentikan aktivitas ini, tetapi ketika dia membawa pelakunya ke pangadilan, hakim membebaskan mereka atas dasar kura-kura ‘ bukan binatang dalam arti hukum’. Dengan demikian, hakim memutuskan, bahwa perlindungan minimum sekecil-kecilnya terhadap kekejaman yang dilakukan bagi binatang berdasarkan hukum pada waktu itu, tidak bisa diterapkan kepada kura-kura. Kebanyakan kita, seperti hakim itu, dikondisikan oleh kultur untuk berpikir bahwa binatang hanyalah mesin. Kalau bukan untuk dipekerjakan, maka hanya pantas sebagai salah satu menu di piring makan. Manusia tidak akan pernah membayangkan bahwa kura-kura laut mampu menyelamatkan nyawa manusia. Mereka bahkan bisa mengorbankan dirinya, hidup dalam kelaparan, untuk mempertahankan sebuah nyawa manusia. Bagi sang kura-kura, nyawa kehidupan manusia juga sama berartinya dengan dirinya. Tetapi adakah manusia berpikir bahwa nyawa kehidupan kura-kura juga sama berartinya dengan manusia? Jika tidak, kita tidak lebih pantas dari seekor kura-kura ! 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s