Darimana Daging Berasal?


Pertanyaan di atas adalah sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, tetapi pernahkah Anda benar-benar memikirkannya? Mungkin banyak dari Anda yang hanya mengenal ayam goreng, bakso, hamburger, sate, dan banyak hidangan-hidangan daging lainnya yang sudah dalam bentuk akhirnya yang menggugah selera di meja makan Anda.

Tetapi pikirkanlah sekali lagi bahwa hidangan-hidangan itu dulunya adalah individu-individu hidup yang harus menderita sejak mereka lahir sampai dengan hari pembantaiannya. Bukalah mata Anda, lihatlah apa yang terjadi di peternakan modern saat ini, lihatlah apa yang terjadi setiap harinya di rumah-rumah pemotongan hewan. Semua penderitaan yang seharusnya tidak perlu terjadi itu ada hanya untuk memuaskan nafsu sepotong lidah.

Saat ini, dimana permintaan akan daging sapi sangatlah tinggi, banyak peternakan-peternakan kecil yang diganti dengan “pabrik-pabrik sapi” yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan besar. Sapi-sapi dirantai di sebuah bangsal yang besar dan diperlakukan seperti “mesin penghasil susu”. Untuk meningkatkan produksi, para peternak menyuntik sapi-sapinya dengan hormon pertumbuhan sintetis yang meningkatkan risiko mastitis, sebuah infeksi yang sangat menyakitkan terhadap sapi-sapi tersebut.

Pada dasarnya sapi menghasilkan susu untuk alasan yang sama dengan manusia: untuk membesarkan anak-anak mereka. Namun yang terjadi saat ini adalah anak-anak mereka langsung diambil beberapa saat setelah dilahirkan. Anak sapi betina langsung dimasukkan ke kelompok penghasil susu atau langsung dibunuh untuk rennet yang ada di perut mereka (rennet digunakan untuk membuat keju.) Ketika susu yang mereka hasilkan mulai berkurang setelah empat tahun, Sapi tadi langsung dibunuh untuk dijadikan burger.

Bahkan pada peternakan-peternakan kecil, anak sapi jantan yang tidak dibutuhkan akan dijual ke peternak penghasil daging sapi. Anak-anak sapi ini dibesarkan di dalam sebuah kandang yang sangat sempit dan gelap dengan leher dirantai. Amonia yang berasal dari kotoran mereka yang bertumpuk berbau busuk. Mereka bahkan tidak dapat melangkah, berputar, ataupun berbaring dengan nyaman. Yatim piatu dan sendirian, mereka menderita anemia, diarrhea, pneumonia, dan kelelahan tubuh. Hidup mereka dihabiskan sepenuhnya di kandang tersebut. Satu-satunya sinar matahari yang mereka lihat adalah pada saat mereka dalam perjalanan menuju ke rumah penjagalan.

Ayam-ayam tidak bernasib lebih baik dari sapi. Untuk meningkatkan keuntungan, para peternak menyuntikkan berbagai obat dan hormon, serta melakukan manipulasi genetik pada ayam. Sebagai hasilnya, banyak ayam-ayam yang menderita kesakitan dari kecacatan pada tulang belakang dan pertumbuhan tulang yang tidak normal.

Satu kandang kecil dapat dijejali hingga tujuh sampai delapan ekor ayam; sayap mereka sudah tidak dapat digunakan lagi, kaki mereka tumbuh dengan bentuk yang tidak normal karena berdiri di atas dasar kandang yang miring dan berlubang.

Sebuah bangsal dapat diisi sampai dengan 40.000 ekor ayam. Dalam suasana yang penuh sesak seperti ini, ayam menjadi stres, kemudian mereka melepaskan stresnya dengan saling mematuk dan melukai. Untuk mencegah adanya ayam yang mati karena hal ini, peternak memotong paruh anak ayam yang baru lahir dengan pisau yang dipanaskan. Begitu menyakitkanya hal ini sehingga banyak anak-anak ayam yang mati seketika. Sedangkan beberapa lainnya mati karena kelaparan, mereka tidak dapat makan karena luka pada paruh mereka sehingga mengambil makanan menjadi proses yang sangat menyakitkan.

Setiap tahunnya, peternak ayam tidak membutuhkan ayam jantan dan mereka membunuh jutaan anak ayam jantan dengan memasukkan mereka ke dalam mesin penggiling atau membiarkan mereka mati lemas dalam sebuah kantong kedap udara.

Kambing, domba, ikan, babi, dan masih banyak hewan ternak lainnya bernasib sama, bahkan ada yang lebih buruk bila dibandingkan dengan sapi maupun ayam. Berhentilah menjadikan perut Anda sebagai kuburan bagi hewan-hewan malang ini🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s