Saya Vegetarian Tetapi Mengapa Kolesterol Saya Tinggi?


Ada makhluk. Dicipta untuk bebas berkeliaran, diberkati Tuhan dengan kaki yang kuat mengaruk tanah dan menggalinya untuk mencari makanan. Namun sekarang tak ada lagi padang rumput tempat mengaruk. Tak ada lagi kebebasan.

Ada makhluk. Mereka tahu matahari dan angin dan bintang, dan sangat bertala dengan siklus alami terang dan gelap. Tapi kini hidupnya demikian terkurung sehingga mereka tak lagi memiliki kesempatan bermandikan sinar matahari lagi.

Ada makhluk. Tinggal di rumah yang sangat kecil bahkan sudah sempit untuk satu saja. Tapi mereka terpaksa membaginya berempat atau berlima. Akibatnya mereka sulit bergerak bahkan untuk membalikkan badan saja tidak bisa, apalagi merentangkan ‘tangan’.

Ada makhluk. Setiap hari dalam hidupnya, mereka berada dalam kondisi yang sama sekali tidak alami. Akibatnya karena stres mereka menjadi kanibal. Karena itulah ‘gigi’-nya dilas supaya tak tajam lagi. Siapa yang akan mendengar kesakitan mereka?

Ada makhluk. Jika lahir sebagai jantan langsung dibuang ke plastik sampah, dibiarkan bertumpuk-tumpuk dalam kantong yang pengap bahkan sampai mati kehabisan nafas atau digilas hidup-hidup untuk diolah menjadi pakan ternak.

Ada makhluk. Tidak pernah merasakan limpahan kasih sayang dan perlindungan induknya karena sebelum mengenal induknya sudah direnggut manusia. Padahal di alam, sang induk rela mengorbankan hidup demi melindungi anak-anaknya.

Ada makhluk. Dicecoki antibiotika, stimulan pertumbuhan, arsenik, pakan tak alami. Mereka sudah tidak dianggap sebagai makhluk hidup tetapi mesin konversi efisien yang mengubah materi mentah yaitu bahan pakan menjadi produk akhir – telur.

Ayam. Mengapa dia harus kehilangan kebebasan, menjalani hidupnya dalam stres, panik, deraan penyakit demi penyakit. Mengapa dia harus hidup tanpa kasih sayang? Bisakah kita membayangkan jika kita adalah makhluk malang itu?

Oh, manusia, waspadalah agar engkau tidak membelakangi Hati Nurani dalam dirimu yang bercinta kasih. Pahamilah dimana ada kekerasan dan kekejaman terhadap makhluk yang tak berdaya, ada Tuhan yang akan menegakkan keadilan bagi mereka.

Kolesterol sudah lama diketahui menjadi masalah serius bagi kesehatan manusia. Sebuah penelitian yang menganalisis poly penyakit jantung dan stroke adalah Proyek Internasional Atherosklerosis yang dilakukan selama 1963 sampai 1965. Proyek ini memeriksa pembuluh arteri lebih dari 20.000 mayat yang diautopsi di seluruh dunia. Hasilnya tak mengejutkan. Seperti sudah diprediksi yaitu area dengan konsumsi kolesterol dan lemah jenuh yang tinggi dapat diciri dengan semakin tingginya kasus atherosklerosis, serangan jantung dan stroke, yaitu penyakit-penyakit yang sudah lama memegang piala sebagai pembunuh utama di berbagai tempat di dunia, termasuk Indonesia. Semakin banyak konsumsi makanan berkolesterol tinggi dan lemak jenuh tinggi maka resiko atherosklerosis, serangan jantung dan stroke juga akan semakin besar.

Tabel 1. Kandungan kolesterol dalam makanan (dalam miligram per 100 gram)

MAKANAN HEWANI

MAKANAN NABATI

Telur 550 Semua padi-padian 0
Ginjal, sapi 375 Semua sayur 0
Hati, sapi 300 Semua kacang 0
Butter 250 Semua biji-bijian 0
Kerang 200 Semua buah 0
Cream cheese 120 Semua legum 0
Lemak babi 95 Semua minyak nabati 0
Sapi 70
Domba 70
Babi 70
Ayam 60
Es krim 45

Mau Kolesterol? Makanlah telur.

Begitu saja kalimat dari Thancu Fu Long mengiang di telinga ketika saya sedang berpikir bagaimana menulis artikel ini, dan alangkah benarnya. Kita tidak perlu repot-repot mengecek satu per satu makanan yang mengandung kolesterol karena sumbernya sudah jelas. Semua sumber kolesterol adalah makanan hewani seperti daging, susu dan telur. Tidak ada sayur, buah, kacang-kacangan, maupun minyak yang mengandung kolesterol. Kacang tanah, kacang kedelai, durian, pendek kata semua makanan nabati tidak mengandung kolesterol sedikit pun. Sebagai vegetarian kita boleh berlega sedikit bahwa makanan nabati kita sehari-­hari ternyata tidak berkolesterol. Tapi hati-­hati, dimana ada telur dan susu beserta semua produknya, disitu kita masih menimbun kolesterol dalam tubuh. Malah kandungan kolesterol dalam telur lebih mengerikan dibandingkan jumlah kolesterol yang terdapat dalam daging (lihat Tabel 1). Dalam 100 gram daging sapi terdapat 70 mg kolesterol. Begitu pula dalam 100 gram daging domba, babi dan ayam berturut-turut terdapat 70, 70, dan 65 mg kolesterol. Sedangkan dalam setiap seratus gram telur terdapat 550 mg! Tidak salah jika telur dinobatkan sebagai raja kolesterol.

Selain kolesterol itu sendiri, telur juga merupakan sumber lemak yang dahsyat. Sekitar 65 persen kalori yang terdapat dalam telur adalah lemak. Lemak jenuh yang terdapat dalam telur jika sudah masuk ke dalam tubuh bisa digunakan untuk memproduksi kolesterol. Jadi meng­konsumsi telur adalah senjata dengan dua moncong untuk menyakiti jantung. Pertama karena kandungan kolesterol telur yang sangat tinggi dan kedua lemak jenuh yang berubah wajah menjadi kolesterol. Jadi meski kaum vegetarian tidak mengkonsumsi daging sehingga bisa menurunkan resiko penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, stroke, diabetes tetapi mereka yang masih mengkonsumsi telur sebenarnya mengekspos dirinya atau mengundang penyakit-penyakit yang disebabkan oleh meningkatnya kolesterol bagi tubuhnya.

Aduh…, kenapa begitu susah sampai tak makan telur kalau alasannya hanya karena kolesterol dan lemak jenuh. Bukankah kedua biang kerok ini terdapat dalam kuning telur, jadi dibuang saja kuningnya dan putih telur yang kaya pro­tein tetap aman untuk dikonsumsi. Tapi protein telur ternyata juga menimbulkan masalah yang tak kalah beratnya dengan kolesterol dan lemak. Dunia kesehatan dan nutrisi sekarang sudah semakin melihat adanya keterkaitan antara masalah kesehatan seperti osteoporosis yaitu rapuh tulang, penyakit ginjal, penyakit hati, kanker dan penyakit jantung, dengan protein konsentrat dalam telur.

Tabel 2. Perbandingan komposisi gizi kacang kedelai dan telur

KACANG KEDELAI

TELUR

Tidak mengandung kolesterol Mengandung 550 mg kolesterol/100 gram
Lemak terutama lemak tak jenuh Lemak terutama lemak jenuh
Kaya serat makanan Tidak mengandung serat makanan
Protein dapat menurunkan kolesterol total Protein menaikan kolesterol total
Protein tidak merusak kalsium tubuh Protein dapat menguras kalsium tubuh
Mengandung genistein Tidak mengandung genistein
Mengandung fitosterol, saponin dan isoflavon Tidak mengandung fitosterol, saponin maupun isoflavon.

Jadi mestinya kita justru perlu meninggalkan kebiasaan makan telur dengan gembira. Pertama, kita akan meninggalkan penyakit-penyakit de­generatif yang menunggu di depan kita akibat konsumsi telur. Kedua, kita akan terdorong untuk lebih serius mendalami sumber protein nabati yang aman bahkan memiliki banyak keunggulan bagi ke­sehatan. Jika kita membandingkan telur dengan kacang kedelai maka kita akan melihat sesungguhnya sangat positif menggantikan telur dengan kacang kedelai.

Dari tabel 2, kita mungkin akan bertanya apa itu genistein, juga apalagi yang namanya fitosterol, saponin dan isoflavon? Mereka semua adalah mega bonus yang kita peroleh dengan mengkonsumsi kedelai. Genistein adalah senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan darah yang diperlukan pertumbuhan tumor. Fitosterol dan sapo­nin dapat mencegah tubuh menyerap kolesterol dalam jumlah besar. Se­dangkan isoflavon mencegah terjadinya kerusakan kolesterol dalam pembuluh darah yang dapat menjadi pemicu terjadinya penyumbatan pembuluh darah. Jika kita memilih sumber protein dari telur maka seratus persen tubuh kita tidak akan mendapatkan efek perlin­dungan terhadap kanker dan masalah jantung karena telur sama sekali tidak mengandung genistein, fitosterol, saponin dan isoflavon.

Begitu pula halnya serat makanan. Organisasi ilmiah terkemuka dari Ameri­can Cancer society sampai Badan Kesehatan dunia (WHO) sampai Ameri­can Herat Association sampai National Institute of Health memperkenalkan bahwa pola makan yang sehat dengan menurunkan konsumsi lemak dan kolesterol dan meningkatkan serat makanan. Ini semua adalah ciri makanan nabati. Sebaliknya daging, telur dan susu adalah makanan berlemak tinggi, berko­lesterol tinggi, tanpa serat makanan.

Selain itu kita juga melihat perbedaan protein kedelai dan telur. Protein telur bisa mempengaruhi cadangan kalsium dalam tubuh, tepatnya menyebabkan terjadinya pengurangan kalsium yang artinya adalah meningkatkan terjadinya pengeroposan tulang. Hal berlawanan yang terjadi pada kacang kedelai. Mengapa sama proteinnya tetapi bisa mendatangkan efek yang berbeda? Untuk im kita perlu memahami bahwa protein adalah gugusan asam amino. Jadi seperti tembok dibangun dari batu bata, maka batu bata pembangun protein adalah asam amino. Berbeda dengan batu bata yang hanya satu jenis, asam amino terdiri dari 22 jenis. Perbedaan jenis asam amino inilah yang menimbulkan perbedaan efek protein terhadap tubuh.

Tak makan telur, makan apa?

Saya selalu shock mendengar perta­nyaan seperti ini meski saya menyadari ini adalah pertanyaan yang seharusnya lumrah. Masyarakat kita adalah masya­rakat yang mendewakan daging sebagai sumber protein tanpa memberikan pertimbangan terhadap kandungan kolesterol dan lemak jenuh di dalam daging. Padahal di dunia, di negeri kita sendiri, bahkan di lingkungan kita sendiri begitu banyak orang yang bermasalah jantung/stroke akibat kolesterol darah yang tinggi. Saya kadang berpikir jangan-jangan kita mencapai konsensus secara diam-diam dalam masyarakat kita bahwa tidak apa-apalah jantung tak kuat atau suatu hari terkena serangan jantung atau mengeluarkan uang ratusan juta untuk operasi jantung atau lumpuh karena stroke, asal tidak kekurangan protein. Hal yang ironisnya adalah semua ini tak perlu terjadi. Dengan mudah kita bisa mendapatkan cukup protein tanpa kolesterol dan lemak jenuh yang begitu mengerikan.

Tragisnya, hal yang persis sama terjadi pada kalangan vegetarian yang memuja telur sebagai sumber protein dan begitu mudah tidak mempedulikan kolesterol dan dampak protein konsentrat dalam telur terhadap tubuh. Sebenarnya jika kita renungi bukan karena tak takut kolesterol dan lemak jenuh dalam telur tetapi ketakutan kita yang begitu besar terhadap kekurangan protein sehingga menutupi kekhawatiran tentang kolesterol.

Mari bersikap rasional. Untuk mengetahui sejauh mana tak makan telur bisa mengalami kekurangan protein kita perlu terlebih dahulu mengetahui berapa banyak protein yang diperlukan setiap hari. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) kebutuhan protein kita adalah 46 persen dari total asupan kalori. Ini artinya kebutuhan protein untuk pria dengan berat badan 68 kilogram adalah 32 gram setiap hari.

Dari tabel 3 kita bisa melihat betapa mudahnya kebutuhan protein bisa dipenuhi dengan cukup mengkombi­nasikan nasi, kacang-kacangan dan sayuran. Seperti diutarakan oleh pakar nutrisi Dr. Mark Messina, ‘Small servings of beans and vegetables in a diet that is mostly rice are enough to guarantee ad­equate protein. The fact is, getting enough protein is easy.’ Pada kebanyakan orang sejumlah kacang-kacangan dan sayur sebagai lauk dengan nasi sudah cukup menjamin kecukupan protein.

Jadi untuk menggantikan telur sebagai sumber protein dan gizi lainnya kita bisa meningkatkan konsumsi kacang-­kacangan. Beberapa trik untuk beralih menjadi pemakan kacang-kacangan antara lain:

* Masak sejumlah kacang merah (rendam beberapa jam sebelum dimasak) dan disimpan di freezer (kulkas bagian atas). Campurkan pada sayuran atau kuah. Bisa juga dicampurkan pada bubur atau havermout.

* Masak kacang kedelai dan dicam­purkan  dengan nasi. Selebihnya disimpan di freezer dan digunakan setiap kali makan.

* Konsumsi kacang hijau yang dimasak dengan kurma merah/angco dan jahe paling tidak dua minggu sekali.

* Variasikan cara memasak tempe, misalnya dengan dipepes atau dibacem.

* Stok kacang tanah atau kacang mete yang bisa dimakan bersama bubur saat sarapan pagi atau makan siang atau makan malam.

* Untuk olesan roti, gunakan selai kacang atau lebih baik kacang tanah yang dihaluskan sendiri. Atau buat selai sendiri dari kacang hijau tanpa kulit.

* Tambah aroma nasi dengan biji-­bijian seperti wijen yang dioseng, biji bunga matahari, kuaci atau biji labu.

* Manfaatkan minuman non-susu yang bergizi seperti susu bubuk yang terbuat dari aneka kacang-kacangan atau susu almond. Susu kacang ini bisa dibuat sendiri dengan menggunakan pot listrik (man wo). Masukkan air mendidih dan beberapa jenis kacang sekaligus (seperti kacang hitam, kacang merah, kacang hijau, plus angco). Biarkan digodok semalaman. Kemudian setelah didinginkan diblender, jika suka campur sedikit gula, dan panas­kan lagi.

* Susu kedelai home-made, yaitu buatan sendiri di rumah, bagaimana pun lebih unggul dari yang dibeli dari luar.

* Melewati hari tanpa sarapan pagi adalah ide yang buruk. Cobalah men­jadikan bubur angco di pagi hari sebagai kebiasaan. Banyak makanan berprotein bisa digabungkan dengan serasi dalam bubur. Seperti kacang tanah dan rumpus laut, jamur hioko atau kulit tahu.

Tabel 3. Kandungan protein dan kolesterol dalam setiap 100 gram makanan nabati

PROTEIN (gram)

KOLESTEROL (gram)

Beras

8

0

Barley

10

0

Roti

10

0

Kacang Hijau

11

0

Kacang Kedelai

16

0

Kacang Merah (besar)

23

0

Kacang Merah (kecil)

24

0

Tahu

16

0

Tempe

19

0

Kacang Mete

17

0

Kacang Tanah

23

0

Buncis

7

0

Taoge

6

0

Jagung

2

0

Kita mungkin berpikir mengapa begitu repot membuat susu kacang, memasak kacang merah dan kedelai, stok kacang dan biji-bijian, membuat selai kacang. Bagi saya, kesediaan anda untuk ‘direpotkan’ menunjukkan anda serius memilih gaya hidup yang mementingkan cinta kasih dan kepedulian terhadap makhluk lain. Apakah sebagai pembina Ketuhanan kita bisa selamanya tak peduli terhadap nasib yang dialami ayam demi membenarkan kita terus makan telur. Apakah dalam hukum karma yang bertahta perbawa perbuatan mengurung makhluk lain, secara langsung maupun tidak dimana kita terlibat, bisa menda­tangkan keleluasaan dalam hidup kita. Apakah anak-anak jantan yang mati karena dalam industri ayam petelur hanya diperlukan ayam betina, akan mati begitu saja. KVMI sudah cukup banyak mela­kukan seminar. Setiap saat itu pula Pdt. Halim akan mengingatkan jika kita tidak bisa membantu meringankan beban makhluk maka janganlah kita menjadi pembawa penderitaan baginya. Pernah­kah kita merenungi apa yang selama ini sudah kita lakukan terhadap ayam-ayam petelur?🙂

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    caplak said,

    Saya rasa salah satu penyebab kolestrol tinggi adalah deep fried food, apalagi bila menggunakan minyak sampai berkali-kali. Pilihan minyak untuk memasak juga salah satu faktor yg menentukan resiko kolestrol(contoh: minyak kelapa).

  2. 2

    Linda said,

    “…durian, pendek kata semua makanan nabati tidak mengandung kolesterol sedikit pun.”
    Mengutip statement dari anda, memang benar smua bahan makanan dari tumbuhan tidak mengandung kolesterol. Protein hewani memang kebanyakan mengandung kolesterol, tapi bila DIKONSUMSI DALAM JUMLAH YANG WAJAR tidak akan mengakibatkan penyakit yang anda sebutkan tadi, apalagi jika disertai dengan olahraga. Terlalu sempit pikiran anda jika menganggap protein hewani menjadi sumber penyakit. Durian jika dimakan terlalu berlebihan bisa menaikkan gula darah yg juga bisa menjadi pemicu penyakit. Vegetarian boleh, tapi tdak perlu menyalahkan protein hewani sbagai sumber penyakit.


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s