Hemat Energi Mulai dari Pola Makan Kita


Selera akan kenikmatan (kelezatan) membutakan mata pikiran dan mata hati manusia, menjadikan manusia boros energi dan merusak alam. Manusia terus sibuk mencari pembenaran bagi tindakan mereka yang tak masuk akal dalam memakai energi dan merusak alam. Demi melanggengkan selera akan kenikmatan mereka, manusia rela mengkhianati logika mereka sendiri. Kemampuan berlogika yang dengan congkak mereka yakini membedakan spesies manusia dengan spesies lain.

Coba kita lihat, manusia sibuk mencari energi alternatif, berpusing-pusing mengembangkan peralatan yang lebih hemat energi, namun menyangkut selera makan, manusia tidak hendak berubah. Jika ditunjukkan angka bukti bahwa diet makan daging berhubungan erat dengan pemborosan energi dan kerusakan lingkungan, manusia cenderung melengos. Ketimbang mengubah diet boros energi, manusia lebih memilih menghamburkan energi untuk mencari penanganan masalah energi melalui jalan yang lebih sulit, panjang, rumit dan tidak efektif. Ketimbang mengurangi konsumsi daging yang terbukti menyumbang gas metana penyebab pemanasan global dan boros energi, manusia memilih terperosok lebih jauh lagi dalam pemborosan energi dengan mencari cara agar kentut sapi tidak mengandung metana.

Rata-rata orang Amerika mengkonsumsi 800 kg bijian per tahun dengan rincian 100 kg langsung dimakan dan 700 kg sisanya diputar melalui perut ternak dahulu. Apakah ini bukan pemborosan? Dan, pola ini terjadi setiap hari tanpa kita sadari. 1

Prosentase pemakaian energi di dunia, total 15 terawatt. Industri, termasuk pertanian, menjadi bagian terbesar, 37%. (US Department of Energy, “Annual Report, 2007)

Pemakaian energi untuk menghasilkan sepotong daging dapat dilacak dari kebutuhan energi dalam:
1. Menanam tanaman makanan ternak
2. Transpor ke pabrik makanan ternak
3. Pengolahan di pabrik makanan ternak
4. Transpor dari pabrik ke peternakan
5. Pengoperasian peternakan
6. Transpor ternak ke pejagalan
7. Pengoperasian pejagalan
8. Traspor daging dari pejagalan ke pabrik proses
9. Pengoperasian pabrik proses
10. Transpor daging prosesan ke toko
11. Pendinginan daging agar tidak rusak

Setiap tahap di atas menimbulkan polusi, gas rumah kaca dan pemakaian energi besar yang dampaknya akan di derita seluruh bumi, seluruh kota, dan akhirnya pada skala yang jauh lebih kecil, bangunan dan kehidupan di dalamnya. Setiap menit hutan seluas 7 kali lapangan sepak bola dijadikan peternakan. 2

Perkiraan Konsumsi Energi untuk Pemrosesan Makanan

R Sainz, “Framework for Calculating Fossil Fuel Use in Livestock System”, Livestock, Environment and Developmenet initiative report (LEAD)

Intergovernmental Panel on Climate Change pada tahun 2007 telah menyatakan bahwa 90% penyebab pemanasan global adalah ulah manusia membakar bahan bakan fosil. Karbon dioksida (CO2) dianggap paling menyebabkan pemanasan global yaitu 29,5% dari sektor pembangkit daya, 20,6% dari sektor industri dan 19,2% dari sektor transportasi. Sebenarnya selain karbon dioksida, metana (CH4) dan nitrogen oksida (N2O) juga termasuk Gas Rumah Kaca (GRK). 3

Pada publikasi Maret 2006 U.S. Environmental Protection Agency melaporkan bahwa metana 23 kali lebih efektif dalam menjebak panas di bumi dibandingkan karbon dioksida. Sedangkan nitrogen oksida 296 kali lebih berpotensi menjadi GRK daripada karbon dioksida. Jadi sangatlah keliru jika kita hanya berkonsentrasi pada pengurangan karbon dioksida. Masalahnya, siapa yang memproduksi metana dan nitrogen oksida? Ternyata peternakan menjadi sumber terbesar metana (sekitar 40%). Sementara PBB melaporkan bahwa industri daging, telur dan produk hewani lain melepaskan 60% N2O di bumi. Jadilah industri daging salah satu penyebab besar masalah lingkungan yang serius. Sumbangan gas rumah kaca industri peternakan (CO2, NH4, N2O) sebesar 18% adalah lebih besar dari emisi yang dikeluarkan oleh seluruh moda transportasi di dunia (13%). Menurut U.N. News Centre beternak menghasilkan lebih banyak GRK daripada mengendarai mobil. Peternakan menghabiskan makanan setara dengan kalori yang dibutuhkan oleh 8,7 miliar manusia, lebih banyak daripada penduduk bumi saat ini sebanyak 6,6 miliar. Sesungguhnya 20% (1,4 milyar) penduduk dunia dapat diberi makan dari bahan makanan yang dikonsumsi peternakan di Amerika saja. Dibutuhkan 16 pon bijian untuk menghasilkan 1 pon daging dan 5 pon ikan liar untuk 1 pon daging ikan budidaya.

Seorang vegetarian membutuhkan 1.200 liter air per hari untuk makanan mereka, sedang pemakan daging membutuhkan 16.000 liter perhari (tergantung dari efisiensi peternakan dan porsi makanan). Penelitan oleh ahli pertanian, David Pimental dan Robert Goodland, bahkan menemukan angka lebih tinggi bahwa untuk setiap 1 kg daging sapi yang kita makan, dibutuhkan 100.000 liter air. Selain itu, makanan untuk vegetarian dapat ditumbuhkan pada area 0,06 ha sedang pemakan daging butuh 1,3 ha (John Robbins, M.D.,(a), h. 367). Jika Anda tidak makan 1 pon daging, sama dengan menghemat air untuk mandi setahun! 4

Sebagai hewan, manusia juga menghasilkan CO2 yang saat ini rata-rata 4.060 kg pertahun. Agar kenaikan suhu global bisa ditahan di bawah 2oC, manusia harus menekan emisi CO2 mereka hingga 2.000 kg pertahun pada tahun 2060. Indonesia adalah negara penghasil CO2 nomor 11 di dunia. Jika penduduk Indonesia 230 juta jiwa, maka setiap tahun menyumbang 933,8 milyar kg CO2 ke atmosfer. Pemakan nabati dapat mengurangi emisi CO2 sebesar 1.500 kg pertahun. Jika 230 juta jiwa beralih ke menu nabati maka setahun hanya akan dilepas 588,8 milyar kg CO2. Sebagai tambahan, saat ini ada sekitar 11 juta sapi di Indonesia. Bila seekor sapi melepas 1.270 kg CO2 maka sumbangan seluruh sapi adalah 13,97 milyar kg CO2 per tahun. (Catatan: ada pendapat yang menyatakan bahwa CO2 yang dihasilkan sapi adalah CO2 yang tadinya diambil tumbuhan pangan dari atmosfer, sehingga tidak perlu dipusingkan.) 5

Pemahaman energi sebagai suatu sistem harus terus disebarkan kepada masyarakat secara luas. Waktu sudah semakin sempit untuk menyelamatkan bumi kalau tidak mau dikatakan terlambat. Tidak boleh lagi ada pihak-pihak yang menutupi (membungkam) angka-angka dibalik semua krisis ini di bumi. Angka-angka yang muncul sebagai penjelas masalah energi, pangan dan kemanusiaan (ledakkan penduduk) di media harus dianggap sebagai bagian dari ekspresi suatu sistem besar, bukan angka-angka terpisah. Kehancuran pertanian di negara berkembang oleh rezim perdagangan global, tantangan penyediaan pangan akibat ledakan penduduk, tuntutan mengubah gaya hidup untuk menyelamatkan bumi, gangguan kepanikan dan spekulasi yang mengganggu supply and demand50, menjadi bagianbagian kecil dari masalah kelangsungan sistem energi bumi untuk mendukung kelestarian hayati dan non-hayati. Bagi Indonesia, memang sudah ada kesadaran bahwa kita telah masuk ‘perangkap pangan’ negara maju dan kapitalisme global. Namun, belum sampai pada tahap (mau atau rela) menyadari bahwa perangkap pangan tersebut sebenarnya akibat dari perangkap menu berbasis daging🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s