Vegetarian Tercepat Selamatkan Bumi: Bagaimana Bisa?


Masih ingatkah anda dengan ancaman pemanasan global atau yang trend disebut Global Warming? kenyataannya ini bukan sekedar ancaman, melainkan buah pahit yang jatuh dari apa yang disemai umat manusia pada bumi, tempat tinggalnya. Kenyataan ini membuat sejumlah elemen masyarakat turut ambil bagian dalam gerakan bersama mencegah terjadinya pemanasan global. Hadir dalam Semiloka Nasional bertajuk € ¢â’ ’¼Hidup Organik dalam Era Global Warming, Tantangan atau Keharusan?€ ¢â’ ’½, Minggu (16/5) lalu, Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Anggota DPR RI Komisi VII, LSM, hingga di lini terkecil masyarakat, yang diwakili oleh Sriatun Djupri, selaku praktisi organik, turut menyumbangkan pemikirannya dalam rangka mencegah terjadinya pemanasan global. Acara yang diprakarsai oleh Himpunan Mahasiswa Biologi Universitas Airlangga bekerja sama dengan Ikatan Himpunan Mahasiswa Biologi Indonesia ini menghasilkan sejumlah usulan, diantaranya seperti yang diungkapkan oleh Ir. Wahyudin
Munawwir, anggota DPR RI komisi VII mengenai kecermatan dalam pengolahan sampah, utamanya sampah kotoran ternak. € ¢â’ ’¼Kotoran ternak ini jika diolah dengan baik, dapat menjadi sumber energi alami, sekaligus pupuk yang aman bagi lahan pertanian,€ ¢â’ ’½tegasnya. Namun demikian, tantangan tersulit agar masyarakat kembali pada pola hidup yang alami/organik adalah kebiasaan serba instan. € ¢â’ ’¼Masyarakat itu ingin praktisnya saja, tidak mau repot, itu yang menjadi masalah utama€ ¢â’ ’½, tambah Munawwir. Ir. Hari Wibowo dari Kementrian Negara Lingkungan Hidup juga menyerukan hal senada, bahwa kunci terdekat keberhasilan masyarakat untuk mencegah terjadinya pemanasan global adalah dengan merubah pola perilaku manusia.

Namun yang menarik, merubah pola perilaku makan menjadi vegetarian rupanya dapat menjadi solusi tercepat dalam mencegah pemanasan global. Seperti diungkapkan oleh Agustinus Madyanaputera, juru bicara Supreme Master TV, sebesar 50% lebih emisi gas rumah kaca dihasilkan dari peternakan. Data ini dilansir dari penelitian T Collin C pada tahun 2009. Berkembangnya sektor peternakan belakangan ini merupakan akibat dari permintaan makanan hewani yang semakin besar. Bisa dibayangkan bahwa semakin berkembangnya jumlah peternakan, semakin besar emisi gas rumah kaca yang menyumbang pada pemanasan global. Kenyataannya, sebesar 2/3 hasil pertanian diperuntukkan untuk peternakan, sedangkan hanya 1/3 yang diperuntukkan bagi manusia. Besarnya kebutuhan pakan ternak, menuntut pula kecepatan dalam memanen hasil pertanian. Kondisi ini mengakibatkan cara-cara bertani organik mulai ditinggalkan dan penggunaan pupuk kimia dalam jumlah besar dipandang sebagai solusi tercepat
untuk merangsang pertumbuhan tanaman pertanian. Padahal, seperti diketahui, pupuk kimia sangat berbahaya bagi lingkungan. Belum lagi besarnya jumlah kotoran ternak yang tidak terolah, menghasilkan metana yang sangat besar.

Ditinjau dari segi kesehatan, begitu banyak kandungan kimiawi berbahaya yang terkandung dalam daging ternak, yang berasal dari makanan yang banyak mengandung pestisida maupun bahan kimiawi pupuk. Belum lagi kemungkinan hormon-hormon yang disuntikkan untuk mempercepat pertumbuhan hewan ternak. Residu hormon ini dapat berpengaruh dalam tubuh manusia ketika dikonsumsi. Perkembangan anak menjadi semakin cepat dari normal, atau dikenal dengan istilah pubertas dini, resiko kanker dan penyakit degeneratif pun ikut meningkat.
Ironis memang, mengingat di Indonesia sendiri sosialisasi empat sehat lima sempurna masih melibatkan produk hewani sebagai sumber protein di dalamnya, diantaranya daging dan susu. Menurut Agus, slogan ini perlu dicermati kembali dan disesuaikan dengan kondisi yang telah dipaparkan sebelumnya. € ¢â’ ’¼Yang terbaik saat ini adalah piramida empat diet nabati, diantaranya biji-bijian, sayur-sayuran, dan buah-buahan€ ¢â’ ’½, ujar Agus yang secara tegas menyatakan STOP DAGING! Dijelaskan lebih lanjut oleh Agus, biji-bijian dapat menyumbangkan protein yang cukup dengan kandungan yang lebih sehat bagi tubuh. Perubahan pola makan ini merupakan cara tercepat yang dapat ditempuh untuk mencegah pemanasan global. Dengan kata lain, menjadi konsumen yang hemat dan bijak merupakan langkah paling dekat dan cepat yang dapat dilakukan bersama untuk mencegah terjadinya pemanasan global🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s