Mengatur Nutrisi Menjaga Bumi


Menjadi vegetarian sama dengan menjaga lingkungan. Tak makan daging menjadi salah satu cara mengurangi jejak emisi karbon.

Semangkuk sup buntut dengan kuah jernih yang masih mengepul tersaji di meja kayu tanpa taplak. Aromanya begitu menggoda. Di dalam mangkuk putih berukuran sedang itu tampak irisan daun bawang, tomat merah, potongan wortel, kentang, juga daging menyembul dari dalam kuah. Ketika dicicip, dagingnya terasa lembut dan juicy.

Tapi tunggu dulu, itu bukan daging sapi. “Dagingnya dibuat dari campuran kedelai dan jamur,” ujar Chef Hie Tian Kiong dari Loving Hut Jakarta, sebuah restoran vegetarian di Jakarta, Selasa pekan lalu. Memadukan jamur dan kedelai untuk mendapatkan citarasa mirip daging, menjadi terobosan untuk memenuhi selera kelompok vegetarian.

Vegetarian merupakan sebutan bagi orang-orang yang tidak mengkonsumsi daging. Makanan utama mereka adalah sayuran dan kacangkacangan. Gaya hidup inilah yang dilakoni Chef Hie Tian Kiong atau akrab disapa Akiong, sejak 14 tahun lalu. Pilihan hidup yang juga diterapkan penulis sekaligus penyanyi Dewi “dee” Lestari.

Dewi menjadi vegetarian sejak 2006. Bagi penulis buku laris Supernova ini, vegetarian adalah pola makan yang ramah lingkungan. Sebab, sayur dan buah yang dikonsumsi tidak perlu melalui proses olahan yang rumit seperti membakar, menggoreng atau memanggang. “Jejak emisi karbon yang ditinggalkan lebih rendah dibanding pola makan non-vegetarian,” kata Dewi Rabu pekan lalu.

Setelah konsisten menjadi vegetarian, Dewi merasa kesehatan dan energinya meningkat. Mantan personil RSD ini merasa lebih mampu memahami kebutuhan diri sendiri, jarang sakit, dan tubuhnya semakin sensitif. “Kalau ada apaapa,” radar”-nya cepat menangkap,” ujarnya. Efek positif membuat Dee tak ragu menerapkan pola makan vegetarian untuk dua buah hatinya, Keenan Avalokita Kirana, 8 tahun, dan Atisha Prajna Tiara, 4 tahun.

“Saya yakin anak saya tidak akan kekurangan nutrisi hanya karena menjadi vegetarian,” kata Dee serius. Hardita Chintia, Mahasiswi semester I di London School of Public Relations Jakarta, juga memilih menjadi vegetarian sejak setahun terakhir. Hardita menjadi vegetarian karena rasa cintanya kepada binatang. “Banyak teman bilang saya jadi lebih sabar,“ ujarnya.

Menurut dokter spesialis gizi Inayah Budiasih, menjadi vegetarian tidak akan membuat tubuh kekurangan nutrisi. Sebab, kebutuhan nutrisi dapat tercukupi meski hanya makan sayuran dan buahbuahan. Jika ada unsur yang kurang, bisa dilengkapi melalui suplemen.

Begitu juga dengan protein. Kebutuhan protein bisa didapat dari jamur, tahu, dan tempe. Hanya vitamin B12 yang tak bisa terpenuhi, karena vitamin ini hanya terdapat pada ikan dan daging. Efeknya adalah anemia. Inayah menyarankan, bagi vegetarian murni sebaiknya memperbanyak konsumsi vitamin dan mineral.

Keuntungan menjadi vegetarian adalah asupan serat semakin tinggi untuk tubuh. Serat bersifat mengenyangkan sehingga tahan lapar dan melancarkan proses buang air besar. Serat juga bisa memperbaiki mood. Sebab, serat bisa menstabilkan kadar gula darah dalam tubuh. Itu sebabnya kelompok vegetarian cenderung lebih stabil secara emosi. Jika olahan makanannya benar, pola hidup vegetarian bisa membantu mengontrol berat badan.

Berbeda dengan Inayah, Moesijanti Soekatri, pakar gizi dari Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan, menyarankan agar ibu hamil tidak menjadi vegetarian murni. Begitu juga saat menyusui dan proses pertumbuhan anak. Karena pada tiga kategori ini kebutuhan aneka protein, termasuk hewani sangat dibutuhkan.

Ia menyarankan, pola vegetarian sebaiknya dijalankan di atas usia 50 tahun atau bagi mereka yang mempunyai risiko penyakit akibat penumpukan lemak. Itupun bukan vegetarian murni, melainkan lacto-ovo vegetarian, yakni tetap mengonsumsi olahan hewani seperti telur dan susu. Ini penting untuk menjaga keseimbangan gizi.

Tak Melulu Sayur

Bagi banyak orang, vegetarian artinya tidak memakan daging sama sekali. Nyatanya tidak demikian. Ada juga kelompok vegetarian yang masih mengkonsumsi produk hewani. Berikut jenis-jenis vegetarian.

  • Vegetarian murni : Hanya mengkonsumsi sayur dan buah.
  • Lacto-vegetarian : Menerapkan pola makan produk tumbuhan ditambah susu.
  •  Lacto-ovovetarian : Mengkonsumsi sayur, buah ditambah ayam atau ikan, susu, telur.
  • Ovo vegetarian : Tidak mengkonsumsi semua produk hewani kecuali telur.
  • Vegan: Menghindari semua produk hewani, termasuk segala sesuatu yang dihasilkan oleh binatang seperti sepatu kulit.
  • Vegetarian Pesco/Pescetarian : Mengkonsum si ikan dan produk turunannya.
  • Vegetarian Pollo : Mengkonsumsi makanan mengandung unggas seperti ayam, dan lainnya.
  • Proutarian : Hanya mengkonsummsi kacang-kacangan, biji-bijian, beras dan kecambah
  • Fruitarian : Hanya mengkonsumsi buah-buahan, biji-bijian dan kacang-kacangan.
  • Macrobiotic vegetarian : Menye suaikan pola makan dengan iklim tempat tinggal 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s