Aspek Kesehatan dalam Pola Makan Vegetarian


Young woman holding melons in produce section of supermarket, Perth, AustraliaPENYAKIT “modern” (jantung koroner, hipertensi atau stroke) yang kini sering menjangkiti kaum menengah ke atas adalah akibat konsumsi pangan hewani yang berlebihan. Penyakit-penyakit ini muncul seiring dengan bertambahnya kemakmuran seseorang sehingga pola makan menjadi tidak seimbang.

Ketidakseimbangan ini umumnya dicerminkan oleh tingginya konsumsi protein dan lemak yang berasal dari pangan hewani. Namun, apabila konsumsi pangan asal hewani ini diatur secukupnya, maka kita tidak perlu khawatir terhadap ancaman penyakit degeneratif.

Bicara mengenai produk pangan hewani (terutama telur dan daging) tidak bisa terlepas dari protein, lemak, dan kolesterol. Benar bahwa pangan hewani kaya akan protein yang sangat dibutuhkan tubuh, namun kandungan lemak dan kolesterolnya juga tinggi.

Di Amerika Serikat (AS) pernah muncul anjuran agar konsumsi telur dibatasi hanya maksimal empat butir seminggu. Selain itu, daging merah (sapi) frekuensi konsumsinya sebaiknya dikurangi atau diganti dengan daging putih (unggas) yang telah dihilangkan kulitnya. Pola pangan nabati atau lebih dikenal dengan pola makan vegetarian dipraktikkan oleh orang karena beberapa alasan, antara lain mengikuti anjuran agama, adanya rasa sayang pada hewan, atau karena alasan kesehatan.

Pola pangan nabati sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pola pangan tinggi serat. Konsumsi serat rata-rata orang Indonesia berdasarkan data 1998/1999 adalah 10,5 g per kapita per hari. Angka ini masih jauh dari anjuran gizi yang 20-30 g per kapita per hari. Apabila kita mau lebih meningkatkan konsumsi serat (bersumber dari pangan nabati, seperti sayuran dan buah), maka kita akan terhindar dari penyakit kanker, jantung koroner, dan kecenderungan obesitas (kegemukan).

Menerapkan pola pangan nabati berarti memangkas sebagian atau semua asupan gizi yang bersumber dari pangan hewani. Pola pangan nabati yang dipraktikkan kaum vegetarian terbagi atas tiga golongan yaitu: a) mereka yang mengonsumsi pangan nabati dan masih membolehkan minum susu dan makan telur (lakto-ovo-vegetarian); b) membolehkan minum susu (laktovegetarian); dan c) mereka yang tidak membolehkan konsumsi segala macam pangan hewani, seperti daging, susu atau telur, dan hanya mengandalkan asupan gizi sepenuhnya dari pangan nabati (vegan–vegetarian).

Diet pola pangan nabati jenis a dan b dapat merupakan susunan makanan yang bergizi dan seimbang. Karena itu, tidak perlu ada kekhawatiran bagi mereka terhadap munculnya masalah defisiensi gizi. Kebutuhan akan zat gizi esensial yang banyak terkandung dalam pangan hewani bisa tersuplai dari konsumsi telur dan susu (asal jumlahnya cukup dan tidak berlebihan). Di negara-negara Barat, sumber kalsium yang utama adalah susu dan hasil olahannya.

Kebiasaan minum susu telah mendarah daging sejak anak masih kecil sampai usia dewasa, sedangkan di negara berkembang upaya penggalakan minum susu masih menghadapi kendala status ekonomi penduduk yang umumnya rendah. Bagi seseorang yang menerapkan pola pangan nabati murni, sumber kalsium bisa tercukupi kalau mereka banyak mengonsumsi kedelai.

Kedelai adalah pangan yang sudah sangat dikenal masyarakat kita dan biasanya dikonsumsi dalam bentuk olahan, yaitu tahu, tempe, dan susu kedelai. Khasiat kedelai untuk kesehatan tubuh sangat luar biasa. Mengonsumsi kedelai dapat menurunkan kolesterol darah sampai 21 persen dalam waktu 3 minggu. Hebatnya lagi, proses penurunan kolesterol ini bahkan dapat dialami oleh mereka yang sedang mengonsumsi diet dengan kolesterol tinggi.

Akibat positif lainnya dari mengonsumsi kedelai adalah meningkatnya kolesterol HDL (kolesterol baik) sampai 15 persen, dan selain itu aliran darah ke jantung menjadi lebih baik yang mengindikasikan terjadinya peremajaan arteri-arteri pembuluh darah. Kadar insulin dan gula darah yang tinggi dapat menimbulkan kerusakan sel dan akhirnya mempercepat proses penuaan. Kedelai mampu mengendalikan insulin dan kadar gula darah pada kondisi keseimbangan.

Survei yang dilakukan seorang mahasiswa IPB (Rosydah, 1993) mengungkapkan bahwa tingkat konsumsi energi dan zat gizi penganut pola pangan nabati (vegetarian) nyaris dapat dikatakan memenuhi angka kecukupan gizi yang dianjurkan. Konsumsi vitamin A, vitamin C, kalsium, dan besi telah melebihi standar kecukupan 100 persen. Sementara itu, konsumsi energi dan protein telah melebihi 90 persen.

Ini dapat terjadi karena mereka tergolong ke dalam lakto-ovovegetarian dan lakto-vegetarian. Jadi, ada pangan hewani yang tetap mereka konsumsi, yakni susu dan telur. Namun, kadar Hb (hemoglobin) darah orang-orang yang diteliti dalam studi ini rata-rata lebih kecil. Meskipun demikian kadar Hb mereka masih ada dalam batas normal, yaitu >13 g/100 ml (pria) dan >12 g/100 ml (wanita).

Kalau kita membicarakan tentang pola pangan nabati (vegetarian), yang terbayang adalah sekelompok individu yang anti-pangan hewani. Citra tersebut sebenarnya kurang tepat karena penganut pola pangan nabati murni atau vegan vegetarian (dari survei di AS) hanyalah kurang dari 10 persen, sementara sebagian besar lainnya adalah mereka yang masih tetap mengonsumsi telur dan susu🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s