Archive for Juni, 2013

Kak Seto, “Vegetarian Perlu Terus Disebarluaskan”


setoSiapa yang tidak kenal Kak Seto? Ia dikenal sebagai psikolog anak, pembawa acara program anak dan pemerhati masalah anak-anak. Kak seto merupakan pendiri dan ketua umum Komnas PA (komisi nasional perlindungan anak) sejak tahun 1999, dan sejak tahun 2010 menjadi pembina Komnas PA. Pria yang murah senyum ini menyelesaikan pendidikan Sarjana Psikologi UI pada 1981, Pendidikan S-2 Bidang Psikologi Program Pascasarjana UI pada 1989, dan meraih gelar Doktor bidang Psikologi Program Pascasarjana UI pada 1993.
Kiprahnya di dunia pendidikan dan perlindungan hak anak membuat Kak Seto makin diakui di tingkat nasional dan internasional lewat berbagai penghargaan yang diterimanya, di antaranya dari Sekjen PBB Javier Perez berupa penghargaan “Peace Messenger Award”, New York, pada 1987, dan Orang Muda Berkarya tingkat Dunia, di Amsterdam pada 1987.

Berita bahagia datang dari Kak Seto terutama untuk komunitas vegetarian karena sejak tanggal 1 Juli 2011 Kak Seto sudah memilih sebagai seorang VEGAN.
Boleh diklaim deh, saya mulai vegan tanggal 1 Juli 2011 dan Bunda mulai hari ini kan?” Todong Kak Seto pada istrinya. “Ayoo kita semua sama-sama vegan, minggu depan saya pastikan semua anak-anak ikut hadir,masih ada 2 yang belum vegan, target saya semuanya kelak bisa ikutan vegan” tutur Kak Seto penuh semangat. Rencana tanggal 28 Agustus 2011 akan diadakan kelas masak di rumah Kak dirangkaikan dengan buka puasa bersama dan perayaan ultah Kak Seto.

Pot Luck Vegan bersama Kak Seto, “Hmm rasanya enak ya….enak yang tidak bikin khawatir karena etis, sehat dan peduli pada lingkungan. (foto atas)
Sasa, putri Kak Seto..mulanya mengatakan saya sulit untuk vegan namun setelah dimotivasi Kak Seto akhirnya bilang juga,”Iya deh saya juga mau belajar vegan”
Bunda (Ny Deviana Seto) sudah mantap menyatakan akan mulai vegan

Kak Seto bersama Anjing kesayangannya Cola;) Cola ini pintar banget, ketika tim IVS-VSI masuk ke ruangan Kak Seto, dia seolah tahu diri, bisa keluar sendiri sepertinya dia mengerti kalau Kak Seto butuh privacy. Ngga diajarin lo, hebat sekali bisa segitu pekanya 😉

Bersama Riama Flora telah membuka jalan bagi IVS-VSI untuk mengenal Kak Seto 🙂

Iklan

Leave a comment »

Greenmax, Nutrisi Untuk Para Vegan


DSCN8768Tanpa sengaja, suatu hari ketika saya ingin membeli buah-buahan di toko buah Paradise di daerah Sunter, Jakarta Utara, saya menemukan semua minuman organik bernutrisi yang bisa dikonsumsi oleh para vegan. Manfaat produk ini, seperti yang tertera di kalengnya adalah 100% alami, tidak ada tambahan perasa, dan lain-lain. Minuman ini juga memberikan nutrisi untuk ibu-ibu hamil dan menyusui seperti yang tertera di kalengnya. Juga bermanfaat untuk pertumbuhan tulang dan gigi. Selengkapnya tentang komposisinya dan manfaat produk ini dapat anda lihat di gambar-gambar yang saya post, silahkan klik di gambarnya untuk memperbesar.
Produk ini tersedia dalam dua rasa yaitu Rye Milk dan Oat Milk. Saya membelinya seharga Rp 155.000,- perkaleng dengan berat 850 gram.
Catatan :
Saya bukan distributor dan juga bukan sales produk ini, saya post produk ini karena banyaknya teman-teman vegatarian yang sedang hamil yang khawatir terhadap kandungannya karena tidak meminum susu hamil dari hewani 🙂

Leave a comment »

Susu Sapi Bukan untuk Manusia


BAyiSapiTidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu -kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing, kerbau, atau apa pun: begitu sudah tidak anak-anak lagi tidak akan minum susu. Mengapa manusia seperti menyalahi perilaku yang alami seperti itu?
“Itu gara-gara pabrik susu yang terus mengiklankan produknya,” ujar Prof Dr Hiromi Shinya, penulis buku yang sangat laris: The Miracle of Enzyme (Keajaiban Enzim) yang sudah terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama. Padahal, katanya, susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk manusia. Manusia seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana anak sapi yang juga hanya minum susu sapi. Mana ada anak sapi minum susu manusia, katanya.
Mengapa susu paling jelek untuk manusia? Bahkan, katanya, bisa menjadi penyebab osteoporosis? Jawabnya: karena susu itu benda cair sehingga ketika masuk mulut langsung mengalir ke kerongkongan. Tidak sempat berinteraksi dengan enzim yang diproduksi mulut kita. Akibat tidak bercampur enzim, tugas usus semakin berat. Begitu sampai di usus, susu tersebut langsung menggumpal dan sulit sekali dicerna. Untuk bisa mencernanya, tubuh terpaksa mengeluarkan cadangan “enzim induk” yang seharusnya lebih baik dihemat. Enzim induk itu mestinya untuk pertumbuhan tubuh, termasuk pertumbuhan tulang. Namun, karena enzim induk terlalu banyak dipakai untuk membantu mencerna susu, peminum susu akan lebih mudah terkena osteoporosis.
Profesor Hiromi tentu tidak hanya mencari sensasi. Dia ahli usus terkemuka di dunia. Dialah dokter pertama di dunia yang melakukan operasi polip dan tumor di usus tanpa harus membedah perut. Dia kini sudah berumur 70 tahun. Berarti dia sudah sangat berpengalaman menjalani praktik kedokteran. Dia sudah memeriksa keadaan usus bagian dalam lebih dari 300.000 manusia Amerika dan Jepang. Dia memang orang Amerika kelahiran Jepang yang selama karirnya sebagai dokter terus mondar-mandir di antara dua negara itu.
Setiap memeriksa usus pasiennya, Prof Hiromi sekalian melakukan penelitian. Yakni, untuk mengetahui kaitan wujud dalamnya usus dengan kebiasaan makan dan minum pasiennya. Dia menjadi hafal pasien yang ususnya berantakan pasti yang makan atau minumnya tidak bermutu. Dan, yang dia sebut tidak bermutu itu antara lain susu dan daging.
Dia melihat alangkah mengerikannya bentuk usus orang yang biasa makan makanan/minuman yang “jelek”: benjol-benjol, luka-luka, bisul-bisul, bercak-bercak hitam, dan menyempit di sana-sini seperti diikat dengan karet gelang. Jelek di situ berarti tidak memenuhi syarat yang diinginkan usus. Sedangkan usus orang yang makanannya sehat/baik, digambarkannya sangat bagus, bintik-bintik rata, kemerahan, dan segar.
Karena tugas usus adalah menyerap makanan, tugas itu tidak bisa dia lakukan kalau makanan yang masuk tidak memenuhi syarat si usus. Bukan saja ususnya kecapean, juga sari makanan yang diserap pun tidak banyak. Akibatnya, pertumbuhan sel-sel tubuh kurang baik, daya tahan tubuh sangat jelek, sel radikal bebas bermunculan, penyakit timbul, dan kulit cepat menua. Bahkan, makanan yang tidak berserat seperti daging, bisa menyisakan kotoran yang menempel di dinding usus: menjadi tinja stagnan yang kemudian membusuk dan menimbulkan penyakit lagi. Karena itu, Prof Hiromi tidak merekomendasikan daging sebagai makanan.
Dia juga menyebut contoh harimau yang hanya makan daging. Larinya memang kencang, tapi hanya untuk menit-menit awal. Ketika diajak “lomba lari” oleh mangsanya, harimau akan cepat kehabisan tenaga. Berbeda dengan kuda yang tidak makan daging. Ketahanan larinya lebih hebat.
Di samping pemilihan makanan, Prof Hiromi mempersoalkan cara makan. Makanan itu, katanya, harus dikunyah minimal 30 kali. Bahkan, untuk makanan yang agak keras harus sampai 70 kali. Bukan saja bisa lebih lembut, yang lebih penting agar di mulut makanan bisa bercampur dengan enzim secara sempurna. Demikian juga kebiasaan minum setelah makan bukanlah kebiasaan yang baik. Minum itu, tulisnya, sebaiknya setengah jam sebelum makan. Agar air sudah sempat diserap usus lebih dulu.
Bagaimana kalau makanannya seret masuk tenggorokan? Nah, ini dia, ketahuan. Berarti mengunyahnya kurang dari 30 kali! Dia juga menganjurkan agar setelah makan sebaiknya jangan tidur sebelum empat atau lima jam kemudian. Tidur itu, tulisnya, harus dalam keadaan perut kosong. Kalau semua teorinya diterapkan, orang bukan saja lebih sehat, tapi juga panjang umur, awet muda, dan tidak akan gembrot.
Yang paling mendasar dari teorinya adalah: setiap tubuh manusia sudah diberi “modal” oleh alam bernama enzim-induk dalam jumlah tertentu yang tersimpan di dalam “lumbung enzim-induk”. Enzim-induk ini setiap hari dikeluarkan dari “lumbung”-nya untuk diubah menjadi berbagai macam enzim sesuai keperluan hari itu. Semakin jelek kualitas makanan yang masuk ke perut, semakin boros menguras lumbung enzim-induk. Mati, menurut dia, adalah habisnya enzim di lumbung masing-masing.
Maka untuk bisa berumur panjang, awet muda, tidak pernah sakit, dan langsing haruslah menghemat enzim-induk itu. Bahkan, kalau bisa ditambah dengan cara selalu makan makanan segar. Ada yang menarik dalam hal makanan segar ini. Semua makanan (mentah maupun yang sudah dimasak) yang sudah lama terkena udara akan mengalami oksidasi. Dia memberi contoh besi yang kalau lama dibiarkan di udara terbuka mengalami karatan. Bahan makanan pun demikian.
Apalagi kalau makanan itu digoreng dengan minyak. Minyaknya sendiri sudah persoalan, apalagi kalau minyak itu sudah teroksidasi. Karena itu, kalau makan makanan yang digoreng saja sudah kurang baik, akan lebih parah kalau makanan itu sudah lama dibiarkan di udara terbuka. Minyak yang oksidasi, katanya, sangat bahaya bagi usus. Maksudnya, mengolah makanan seperti itu memerlukan enzim yang banyak.
Apa saja makanan yang direkomendasikan? Sayur, biji-bijian, dan buah. Jangan terlalu banyak makan makanan yang berprotein. Protein yang melebihi keperluan tubuh ternyata tidak bisa disimpan. Protein itu harus dibuang. Membuangnya pun memerlukan kekuatan yang ujung-ujungnya juga berasal dari lumbung enzim. Untuk apa makan berlebih kalau untuk mengolah makanan itu harus menguras enzim dan untuk membuang kelebihannya juga harus menguras lumbung enzim.
Prof Hiromi sendiri secara konsekuen menjalani prinsip hidup seperti itu dengan sungguh-sungguh. Hasilnya, umurnya sudah 70 tahun, tapi belum pernah sakit. Penampilannya seperti 15 tahun lebih muda. Tentu sesekali dia juga makan makanan yang di luar itu. Sebab, sesekali saja tidak apa-apa. Menurunnya kualitas usus terjadi karena makanan “jelek” itu masuk ke dalamnya secara terus-menerus atau terlalu sering.
Terhadap pasiennya, Prof Hiromi juga menerapkan “pengobatan” seperti itu. Pasien-pasien penyakit usus, termasuk kanker usus, banyak dia selesaikan dengan “pengobatan” alamiah tersebut. Pasiennya yang sudah gawat dia minta mengikuti cara hidup sehat seperti itu dan hasilnya sangat memuaskan. Dokter, katanya, banyak melihat pasien hanya dari satu sisi di bidang sakitnya itu. Jarang dokter yang mau melihatnya melalui sistem tubuh secara keseluruhan. Dokter jantung hanya fokus ke jantung. Padahal, penyebab pokoknya bisa jadi justru di usus. Demikian juga dokter-dokter spesialis lain. Pendidikan dokter spesialislah yang menghancurkan ilmu kedokteran yang sesungguhnya.
Yang menggembirakan dari buku Prof Hiromi ini adalah: orang itu harus makan makanan yang enak. Dengan makan enak, hatinya senang. Kalau hatinya sudah senang dan pikirannya gembira, terjadilah mekanisme dalam tubuh yang bisa membuat enzim-induk bertambah 🙂

Leave a comment »

Vegetarian, Selamatkan Dunia dan Tubuh


1001p198-rosti-casserole-anniversary-lMENJADI vegetarian adalah solusi yang paling mudah, murah, serta beradab untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan lingkungan, pemanasan global, serta dan demi kesehatan tubuh. Hal tersulit untuk bervegetarian adalah mengenyahkan sugesti bahwa makan daging itu perlu.

Sugesti paling kuat-dan memprihatinkan-yang telanjur menancap di benak masyarakat adalah bahwa t ubuh akan lemas kalau tidak menyantap daging. Ini seakan mengingkari fakta bahwa daginglah penyebab banyak penyakit yang menurunkan kesehatan tubuh.

“Sudah sangat banyak paparan dari organisasi resmi seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan paparan dari ahli medis yang intinya menjelaskan bahaya makan daging,” ucap Prasasto Satwiko, Koordinator Bidang Teknologi Pusat Studi Energi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Selasa (7/10).

Namun lanjut dia, informasi seputar berbahayanya daging ini tak sampai ke masyarakat . Jika manusia bisa jernih berpikir, kalau melihat dampaknya, makan daging sebenarnya tidak perlu. Tetapi, sugesti yang menempatkan daging sebagai santapan penting, sulit diubah.

Tentu saja, kalau orang tiba-tiba bervegetarian, tubuhnya terasa kurang bertenaga, aneh, dan otak seperti kurang bisa berpikir. “Tapi, keadaan ini kan seperti perokok yang merasa aneh kalau mendadak berhenti merokok. Artinya adalah, itu hanya sugesti,” kata Prasasto, profesor yang juga Guru Besar Fakultas Teknik UAJY ini.

Dengan kata lain, meski daging tidak dikategorikan sebagai bahan aditif yang berbahaya, namun efek psikologis (membuat ketagihan) sudah nyata terpapar. Sayangnya, kondisi ini seakan dianggap angin lalu.

Informasi seputar vegetarian masih diterima secara sepenggal-sepenggal, belum secara sistem. Vegetarian hanya dianggap gaya hidup demi kesehatan atau ajaran agama tertentu. Padahal lebih dari itu, pemanasan global, kerusakan lingkungan, hingga kepunahan hewan, banyak berpangkal dari daging, termasuk ikan. Terkait pemanasan global misalnya, tercermin dari borosnya energi untuk menghasilkan sepotong daging.

Mitos bahwa bervegetarian membuat orang bodoh, juga tidak benar. Banyak orang penting yang mengubah dunia dan mereka vegetarian, misalnya Albert Einstein, Socrates, Plato, Leonardo da Vinci, Charles Darwin, hingga RA Kartini, kata Prasasto.

Indra (27), karyawan swasta di Yogyakarta berpendapat, memang sulit untuk bervegetarian. Sangat sulit mengenyahkan daging dari menu di piring. Sulit juga mencari warung makan yang hanya menyediakan sayuran. “Budayanya sudah budaya makan daging”, ujarnya.

Bervegetarian masih dilihat Indra sebatas demi menjaga kesehatan. Saya tidak tahu hubungan vegetarian dengan pemanasan global. “Namun saya meyakini bahwa bergetarian itu baik dari segi apa pun,” ucapnya 🙂

Leave a comment »

Whey Tidak Vegetarian


indexWhey yang banyak digunakan dalam produk seperti susu bayi, susu bubuk, permen, makanan bayi, ice cream dan juga pada flavor, menurut Drs Susianto, MKM, (ahli gizi yang sering tampil di program Healthy life Metro TV dan sedang menempuh gelar S3 di FKM – UI , juga dosen gizi vegetarian di STAB Maitreyawira, Jakarta yang sangat berpengalaman sebagai pembicara seminar baik di dalam maupun luar negeri (Singapore, Malaysia, Taiwan, India, Australia dan Jerman) serta satu dari 16 orang yang sangat berpengaruh dalam organisasi vegetarian di dunia dengan jabatannya sebagai Sekjen Asian Vegetarian Union (AVU) dan Koordinator International Vegetarian Union (IVU) Asia Pasific sedangkan di Indonesia beliau menjabat sebagai Ketua Indonesia Vegetarian Society (IVS)) menyatakan bahwa : “Tepung whey tidak untuk dikonsumsi para vegetarian karena diambil pada proses yang melibatkan enzim usus sapi.”
Selengkapnya tentang Whey seperti dikutip dari Halal Guide :

Whey adalah salah satu jenis bahan dasar (komposisi) yang digunakan dalam pembuatan suatu produk. Nah, pada kesempatan ini kita akan bahas apa itu Whey dan bagaimana ia diperoleh Penggunaan Whey dalam industri pangan saat ini cukup luas. Whey banyak digunakan dalam produk seperti susu bayi, susu bubuk, permen, makanan bayi dan juga pada flavor. Salah satu tujuan Whey adalah untuk mereduksi biaya produksi.
Whey adalah limbah dari pembuatan keju atau limbah pembuatan mentega. Whey dengan kata lain adalah serum susu terdiri dari komponen utamanya adalah:
Laktosa (4-7 %)
Protein (0.6 – 1.0 %)
Limbah Whey diseluruh dunia dapat mencapai lebih kurang 118 juta ton/tahun,dimana 66 % di eropa, 25 % di USA dan sisanya 9 % tersisa dinegara-negara lain.
Ditinjau dari titik kritis kehalalannya, Whey yang dapat bersumber dari pembuatan keju atau mentega, yaitu penggunaan enzim (renet, pepsin) dalam pembuatan keju. Sedangkan pada limbah mentega kemungkinan penggunaan gelatin yang ditambahkan untuk pengatur tekstur dan kelembutan.
Jenis Whey ada beberapa macam tergantung pada jenis asam atau enzim yang digunakan dalam pembuatan keju. Whey manis berasal dari limbah keju yang menggunakan enzim sebagai metode koagulasinya, sedangkan Whey asam diperoleh dari metode koagulasi yang menggunakan asam dan yang terakhir adalah jenis Whey teknis yang menggunakan asam selain asam laktat seperti HCl dan asam sulfat.
Dengan demikian jelas sudah mengapa bahan tambahan tersebut perlu dicurigai. Apalagi jika bahan tersebut berasal dari Eropa atau Amerika. Karena penggunaan enzim campuran (rennet dan pepsin, bersumber dari babi) dalam pembuatan keju di Eropa dan Amerika semakin meningkat dari hari ke hari 🙂

Leave a comment »

Vegetarian Lebih Sehat di Segala Aspek


vegetable-fruitPola makan vegetarian tidak hanya lebih baik dalam mengatur berat badan, lebih dari itu ternyata vegetarian lebih bergizi dibandingkan diet yang mencakup daging, demikian hasil sebuah studi baru di Journal of American Dietetic Association. Dengan fakta dua dari tiga orang Amerika perlu menurunkan berat badan, pesan ini lebih mendesak dari sebelumnya.

Temuan baru ini didasarkan pada studi 13.292 peserta di National Health and Nutrition Examination Survey. Hasil studi membuktikan para vegetarian lebih ramping dari rekan-rekan mereka para pemakan daging, selain itu asupan serat mereka adalah 24 persen lebih tinggi dan asupan kalsium 17 persen lebih tinggi. Para vegetarian juga mengonsumsi lebih banyak magnesium, potasium, besi, thiamin, riboflavin, folat, dan vitamin A, C, dan E, selain itu juga lebih sedikit lemak total, lemak jenuh, dan kolesterol.

Penelitian ini disertai dengan editorial yang menyimpulkan bahwa “Manfaat dari mengikuti pola makan nabati mendapat nilai lebih dari hanya sekedar tujuan penurunan berat badan.” Secara khusus, editorial mencatat, vegetarian memiliki tingkat kolesterol, tekanan darah rendah, dan risiko lebih rendah untuk berbagai penyakit yang ada di negara tersebut termasuk penyakit jantung, diabetes, kanker, dan hipertensi.

Jadi……Pilihlah Vegetarian untuk Kesehatan Bangsa 🙂

Leave a comment »

Tempe dan Vitamin B12


vit B12Pertanyaan Astrawinata:
Bagaimana seorang vegan dapat memnuhi kebutuhan harian vitamin B12 nya tanpa suplemen? Karena setahu saya vitamin B-12 dari tempe, gigi kita dan sumber nabati lain hanya bersifat isomer (mirip bentuknya) dan bukan vitamin B12 yang sesungguhnya.
Sementara vitamin B12 yang diproduksi di usus tidak bisa dipakai tubuh karena untuk menyerap vit.B12 diperlukan faktor intrinsik dari lambung dulu. Kalau sudah di usus vit.B12 tanpa faktor intrinsik tidak akan diserap.

Ahli Gizi Dr.Susianto,MKM menjawab :
Hasil penelitian saya tentang B12 tempe di gizi UI dapat mempertahankan kadar B12 serum darah setelah intervensi 3 bulan dan retensi 3 bulan. Jika tidak suka makan tempe, bisa konsumsi makanan fortifikasi B12 seperti susu soya, sereal, dll.

(Liliyana)
Ketika mengandung anak kedua, saya pernah bertanya kepada dokter kandungan, apakah saya rentan kekurangan vitamin B12 sehingga perlu mengkonsumsi supplemen vitamin B12?. Dokter saya menjawab,”Justru sebagai vegatarian (saya vegan) anda tidak akan kekuarangan vitamin B12.”. Dari jawaban dokter ini dapat kita simpulkan bahwa dengan banyaknya mengkonsumsi makanan nabati kita justru tidak akan kekurangan vitamin B 12. (catatan: dokter saya ini bukanlah seorang vegetarian dan boleh dikatakan tidak menyetujui orang hamil untuk vegetarian, seperti yang pernah saya ceritakan di artikel
http://newvegeplanet.blogspot.com/2010/04/diary-seorang-ibu-vegetarian 🙂

Leave a comment »

%d blogger menyukai ini: