Diary Seorang Ibu Vegetarian


IMG_9802Seketika perasaan haru menyergap relung hatiku yang terdalam. Kupandang permata hatiku yang sedang tertidur pulas. Wajah damai nan lugu menunjukkan hati yang polos. Ahhh…tak terasa sudah sebelas tahun kau bersama kami. Sungguh waktu berlari begitu kencang. Masih teringat dengan jelas kejadian sebelas tahun yang lalu, ketika kau sudah tak sabar lagi ingin segera menghirup udara dunia.. saat itu, tepatnya 26 Februari 1999, setelah kau menetap (hanya) 8½ bulan di rahimku.
Hari itu, hati Mami begitu bahagia menerima kehadiranmu, terlebih lagi ketika mengetahui bahwa Mami melahirkan anak laki-laki sesuai hasil USG sebelumnya, kebahagiaan tak terkira pun segera menyergap Mami. Bukan karena Mami tidak menyukai anak perempuan, bukan pula karena Mami membedakan antara anak laki-laki dan perempuan. Tapi latar belakang hidup Mamilah penyebabnya.
Ceritanya, Mami yang sudah menjadi vegetarian sejak tahun 1987 (begitu pula papi), menjalani hidup yang tidak mudah sebagai seorang vegetarian. Pada saat itu vegetarianisme belum berkembang seperti saat ini. Bertahun-tahun Mami harus berjuang menghadapi orang-orang di sekeliling Mami yang menentang keras pilihan hidup Mami menjadi seorang vegetarian. Ejekan bahwa Mami bodoh, dan pasti sulit mendapatkan jodoh karena vegetarian, mewarnai hidup Mami. Setelah ternyata akhirnya Mami berjodoh dengan Papimu dan mengandungmu, keluarga dan kenalan Mami yang anti vegetarian, kembali mencemooh Mami. Mereka mengatakan bahwa Mami tidak akan pernah dapat melahirkan anak laki-laki karena vegetarian. Sebagai orang Tionghua, sebagian masyarakatnya masih berpikiran kuno dan menganggap anak laki-laki lebih bernilai daripada anak perempuan,jadi mereka sangat mengharapkan kehadiran anak laki-laki dalam keluarga karena anak laki-laki dapat meneruskan Marga keluarga, sedangkan anak perempuan setelah menikah kelak anaknya akan menyandang Marga dari pihak ayah sehingga anak perempuan tidak dapat meneruskan Marga keluarga. Pikiran yang kolot, tentu saja. Cobalah kita pikirkan, apa jadinya jika dunia ini hanya diisi anak laki-laki? Dan bukankah kemuliaan seseorang tidak terletak pada Marganya, tapi dari bagaimana dia memaknai dan menjalani hidup yang sementara ini. Hari itu Mami bahagia sekali karena Mami dapat membuktikan bahwa cemoohan mereka tidak beralasan. Fakta sudah membuktikan, bahwa pasangan vegetarian dapat melahirkan anak laki-laki. Kekhawatiran bahwa para vegetarian akan kekurangan gizi, lebih-lebih di saat kehamilan, juga tidak terbukti nak. Kau lahir sempurna dengan nilai apgar sempurna 9/10, walaupun Mami dan Papimu adalah seorang vegetarian. Bahkan kemudian terbukti tumbuh kembangmu sangat bagus.
Di saat anak-anak seusiamu belum lancar bicara, kau sudah dapat berkomunikasi dengan lancar dengan orang-orang di sekitarmu. Kau juga sangat terampil.Teringatlah mami pada salah satu kegiatan yang sangat kau sukai, renang. Kau menguasai olahraga renang tanpa pelatih atau dilatih. Kau belajar sendiri. Setelah bisa berenang, suatu hari, Mami membayar part timer pelatih untuk mengajarimu cara berenang dengan gaya yang benar. Daya tangkapmu sangat bagus, hanya dengan sekali pertemuan kau sudah dapat menguasai gaya renang yang benar, sementara itu salah seorang temanmu yang non vegetarian, menurut info dari mamanya, sudah dilatih dengan bantuan pelatih lebih dari setahun lamanya belum juga dapat berenang. Dan di usia balita itu juga kau sudah bisa berenang bolak balik keliling kolam renang berukuran semi olympic di sebuah hotel dekat rumah kita, sehingga mengundang decak kagum orang-orang dewasa yang melihatmu.
Lalu, karena ingin membuktikan bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan dari inteligensi seorang anak vegetarian, kita berdua bahu membahu berusaha memberikan yang terbaik. Mami setiap hari menemani dan membantumu belajar sampai akhirnya kau bisa membuktikan bahwa anak vegetarian bisa unggul dengan mendapat ranking pertama di sekolah, juara harapan Sempoa Sejabodetabek, juara pertama lomba gambar Indonesia Jepang mengalahkan lebih dari seribu peserta, mendapat penghargaan dari India dan Amerika karena poster karyamu terpilih untuk dipamerkan di negara tersebut, mendapat penghargaan sebagai anak berprestasi dalam upacara 17 Agustus di sekolahmu dan lain-lain (1). Kau juga beberapa kali terpilih untuk berpartisipasi di pentas seni. Dan yang paling penting, Mami juga selalu menekankan pentingnya iman kepadamu sehingga kau tumbuh menjadi anak yang jujur, takut pada dosa karma dan sangat mengenal vegetarianisme dan menjalankannya dengan pemahaman yang benar, dan kau dapat menghadapi dengan tabah keisengan teman-temanmu yang kadang-kadang mengerjaimu dengan menaruh menu daging hewani di piring makanmu.
*******
Sharing di atas adalah kisah tentang anak saya yang pertama, Steven Bodhi Putra. Semua ini membuktikan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari seorang vegetarian dalam menjalani kehamilan. Fakta ini saya share untuk membuktikan kepada para orang tua agar tidak ragu-ragu menjalani kehamilan vegetarian. Selama hamil Steven, saya juga tidak mengkonsumsi menu khusus. Yang saya ingat, karena jika siang hari saya di rumah sendirian, saya hanya selalu makan antara gado-gado dan cap cay yang saya pesan dari restoran vegetarian. Sedangkan untuk makan malam ada yang membantu masak dan saya juga makan dengan menu vegetarian yang biasa biasa saja, tahu tempe dan sayur mayur.

Sampai sekarang semua berjalan baik-baik saja, kesehatan saya juga normal saja, bahkan kini di usia 42 tahun, saya kembali dikarunia seorang putri yang lucu, Chavella Claresta Prajna. Perlu saya jelaskan di sini (agar tidak dikambinghitamkan bahwa para vegetarian susah dapat anak) jarak antara Steven dan Chavella yang 11 tahun bukan karena saya sulit hamil lagi. Alasannya adalah karena awalnya saya dan suami memang hanya berencana punya satu anak, sampai akhirnya kami berubah pikiran. Puji syukur, tidak lama setelah berkeinginan menambah anak lagi, tanpa menunggu lama, kamipun segera diberkahiNYA putri nan lucu. Di usia kepala empat yang sudah beresiko tinggi untuk kehamilan dan persalinan, saya juga tidak mengkonsumsi menu khusus. Saya hanya memperbanyak konsumsi sayur mayur, tahu tempe serta vitamin yang diberikan dokter dan minum susu kacang kedelai, dan jus buah , serta sekaleng lebih (tidak sampai dua kaleng) Organic Rye Milk dari Greenmax (lihat http://newvegeplanet.blogspot.com/2010/01/greenmax-nutrisi-untuk-para-vegan.html ).

Sebelum mengandung Chavella, saya sudah beberapa tahun menjadi seorang vegan jadi saya juga tidak minum susu hamil. Tantangan kehamilan vegan yang saya hadapi kali ini, anehnya, justru banyak datangnya dari sebagian teman-teman yang sudah vegetarian tapi masih lacto ovo. Mereka mengatakan mengapa saya ambil resiko tidak mau memakan telur dan meminum susu hamil. “Kog tidak mau berkorban, demi kehamilan,” kata mereka. Saya pun jadi prihatin akan pengetahuan mereka yang minim karena justru telur dan susu hewani itu yang beresiko, dimana seperti yang dapat kita baca di internet, kedua produk ini banyak berasal dari hewan-hewan yang disuntik. Dan alasan paling kuat yang membuat saya tidak mau mengkonsumsi telur dan susu hewani adalah karena seperti yang saya ketahui, untuk menghasilkan kedua produk ini, hewan-hewan mengalami penyiksaan dan penderitaan yang luar biasa (2 dan 3).

Tantangan lainnya adalah ketika dokter kandungan saya mengatakan bahwa jika saya vegan maka hasil yang diperoleh , jika non vegetarian nilainya 10, saya hanya akan dapat nilai 6 atau 7. Saya cuma tertawa dalam hati dan mengatakan kepada beliau bahwa ini adalah masalah keyakinan, tidak apa-apa hanya mendapat 6 atau 7 karena dengan bantuan TUHAN nantinya akan mejadi 10. Dokterpun tertawa dan ikut setuju. Tantangan yang ekstrim datang dari dokter kandungan pengganti, yang saya kunjungi ketika dokter kandungan saya sedang cuti. Dokter pengganti ini panjang lebar “menceramahi” saya bahwa susu kedelai tidak bisa memberi nutrisi yang cukup, beda dengan susu hewani,jadi saya harus minum susu hewani. Saya pun bergumam dalam hati, “Kemana saja sih kau dok, kog pengetahuanmu minim amat,…..” Tapi….percuma saja debat dengan orang berpikiran sempit, sayapun hanya menjawab bahwa saya akan tetap vegan karena ini kepercayaan saya dan saya yakin bahwa saya akan baik-baik saja. Dan memang akhirnya semua baik-baik saja.

Persalinan caesar kedua saya pada tanggal 14 Maret 2010 berlangsung lancar dan kini telah lahir dengan sempurna putri tersayang saya, yang telah memberi kebahagiaan luar biasa kepada kami sekeluarga. Puji syukur, kali ini malah kesehatan saya sangat cepat pulih. Hari ketiga setelah operasi, setelah infus dilepas, saya sudah mandi sendiri dan hari keempat saya telah diperbolehkan pulang. Ada kejadian lucu ketika saya mau check out dari rumah sakit. Ceritanya, suami saya yang akan datang menjemput, terjebak macet. Karena tidak mau menunggu lebih lama lagi, maka administrasi yang seharusnya diurus suami untuk diselesaikan sebelum saya diperbolehkan pulang, akhirnya saya urus sendiri, agar ketika suami datang semuanya sudah beres dan saya bisa segera pulang. Saya pun bolak balik turun dari lantai dua ke lantai satu, mengurus sendiri semua administrasi. Dan ketika akhirnya semua administrasi selesai dan buktinya saya serahkan kepada suster jaga untuk mendapat surat ijin pulang, suster itu bertanya, “Siapa yang Ibu urus administrasinya? Mana pasiennya?”. Dan terkejutlah dia ketika saya mengatakan bahwa sayalah pasiennya, dan suster mengatakan, ” Segar amat Bu, tidak seperti orang yang baru melahirkan.” Diapun lebih terkejut lagi ketika tahu saya melahirkan dengan operasi caesar, karena biasanya dengan caesar, pemulihan lebih lama.

Fakta ini membuktikan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari seorang vegan. Marilah coba bandingkan dengan keadaan seorang artis (non vegetarian), yang baru bersalin, ketika keluar dari rumah sakit, seperti yang ditayangkan di TV beberapa tahun lalu, dia harus didorong pakai kursi roda. Jadi…tak perlulah kita khawatir bahwa vegetarian akan kekurangan gizi dan menjadi lemah.
Keuntungan lain dari seorang vegetarian, karena banyak mengkonsumsi sayur maka saya tidak ada kendala dalam memberikan ASI ekslusif. Sampai tulisan ini dibuat saya sukses memberikan ASI Eksklusif kepada anak saya, di mana banyak teman-teman saya yang non vegan malah ASI nya tidak keluar, kalaupun bisa memberikan ASI, tidak eksklusif, tapi diselingi dengan susu formula alasannya karena ASI mereka tidak mencukupi. Hal berbeda saya alami, ASI saya melimpah sampai kadang harus saya peras dan buang karena produksinya melebihi kebutuhan putri saya, semua ini berkat banyaknya sayur mayur yang saya konsumsi.

Semoga dengan pengalaman ini, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan dari seorang ibu hamil yang vegetarian, bahkan vegan sekalipun. Yang perlu diperhatikan, selama hamil, perbanyaklah makan sayur mayur dan buah. Selain makanan, yang tidak kalah penting adalah istirahat yang cukup dan selalu berpikiran positif dan bahagia dan rutin kontrol dokter sesuai jadwal. Dan di atas segala-galanya, yang paling penting adalah selalu berdoa kepada yang di Atas. Salam Vegan🙂

1 Response so far »

  1. 1

    […] Diary Seorang Ibu Vegetarian Seketika perasaan haru menyergap relung hatiku yang terdalam. Kupandang permata hatiku yang sedang tertidur pulas. Wajah damai nan lugu menunjukkan hati yang polos. Ahhh…tak terasa sudah sebelas tahun kau bersama kami. Sungguh waktu berlari begitu kencang. Masih teringat dengan jelas kejadian sebela … Sat, 6 Jul 2013 21:44:00 CDT more info… […]


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s