Vegetarian, Hidup Sehat dengan Makanan “Jadi-jadian”


 

aMAKANAN ”jadi-jadian” atau palsu, apa itu? Maksudnya, makanan yang terbuat bukan dari bahan dasar aslinya. Empal daging, misalnya, bukan irisan daging sapi yang digoreng, tetapi ”empal” dari sejenis jamur ditambah ramuan bahan lain sehingga tekstur dan rasanya menyerupai daging sapi yang dibuat empal.

Penganan semacam itu sudah biasa bagi kalangan vegetarian, mereka yang hanya mengonsumsi bahan pangan dari nabati. Akan tetapi, belakangan masakan semacam itu sudah akrab bagi telinga mereka yang nonvegetarian.

Namanya juga makanan palsu, tentu rasanya berbeda dengan makanan dari bahan yang asli. Namun jangan salah, jika pandai mengolahnya, makanan jadi-jadian juga bisa selezat aslinya. Tak percaya? Coba saja datang ke restoran penyaji menu vegetarian di Jakarta dan sekitarnya yang jumlahnya kian bertambah.

Restoran vegetarian biasanya menawarkan aneka menu selayaknya restoran pada umumnya. Seiring semakin berkembangnya inovasi menu vegetarian, restoran-restoran khusus ini tak hanya menyediakan makanan ”jadi-jadian” serupa ayam dan daging sapi. Sekarang malah banyak yang menyajikan menu dari udang, cumi, ikan, dan daging kambing yang tentu saja semuanya serba jadi-jadian.

Kembali soal rasa, ada yang benar-benar mirip dengan bahan aslinya. Contohnya sate ayam Madura sajian Restoran Tehe Vegetarian. ”Sate ayam” yang disajikan panas-panas dengan bumbu sambal kacang sungguh mengundang selera.

”Sate ini pernah kami sajikan kepada tiga presiden, Gus Dur, Ibu Mega, dan Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Mereka menyukai sate ini,” tutur Suharjo, pemilik Tehe Resto Vegetarian.

Lain lagi di Restoran Loving Hut di Plaza Semanggi yang juga terdapat di California, Amerika Serikat; Taiwan; dan Jepang. Resto ini menyajikan ragam masakan Indonesia yang sudah kita kenal. Sebut saja seperti soto Kudus, mi Bandung, nasi timbel, nasi goreng ikan asin, sate, sampai pepes. Beberapa jenis masakan merupakan masakan China ala Schezuan. Semua masakan itu tentunya dimodifikasi. Semua unsur hewani pada menu asli diganti menjadi nabati.

Materi yang serupa daging hanyalah daging jadi-jadian alias bukan daging sungguhan. Menu sambal goreng kentang dengan suwiran daging ternyata dagingnya merupakan kaki jamur. Segala daging-dagingan ini rasanya sangat menyenangkan, cenderung ringan dan tidak cepat bikin enek.

Begitu pula dengan jus. Tak cuma jus buah, tetapi juga jus sayur. Jenis sayur yang dijus mungkin tak mengundang selera, misalnya mengandung bit, bayam merah, sampai brokoli. Sayur-mayur itu dikombinasi dengan buah, seperti pisang atau nanas. Rasanya? Sungguh mengejutkan. Tak ada rasa aneh atau bau sayur sama sekali, sangat menyegarkan dan drinkable (layak minum).

Paling tidak, penganan hewani jadi-jadian ini akan lebih mudah diterima vegetarian pemula dan kalangan nonvegetarian. Adapun pelaku vegetarian sejak lama boleh jadi sudah tak perlu lagi citarasa hewani semacam itu.

Apa pun pilihan menu vegetariannya, yang pasti masakan di resto-resto ini lebih menyehatkan dan ramah lingkungan pastinya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s